Aksi Saling Serang AS Iran Tekan Bursa Saham Wall Street
Tiga indeks utama bursa saham Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026), akibat kembalinya aksi saling serang antara militer Amerika Serikat dan Iran. Meskipun demikian, seperti dilansir dari Investor Daily, kinerja bulanan pasar saham AS tetap mencatatkan penguatan.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan terbesar dengan merosot 374,09 poin atau 0,7 persen ke level 53.185,90 akibat tekanan dari saham Goldman Sachs dan Alphabet. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 0,33 persen menjadi 7.686,14 dan Nasdaq Composite tergerus 0,12 persen ke posisi 26.370,89.
Eskalasi militer bermula saat Komando Pusat AS mengonfirmasi serangan terhadap dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran, pada Minggu. Aksi tersebut merupakan serangan terbuka pertama pihak AS sejak akhir Juli, yang kemudian dibalas oleh Teheran melalui serangan ke pangkalan AS di Yordania.
Ketegangan geopolitik ini langsung memicu lonjakan harga minyak mentah West Texas Intermediate sebesar 2,83 persen menjadi US$ 85,76 per barel, sedangkan minyak Brent melesat 2,71 persen ke US$ 90,49 per barel. Kenaikan harga energi turut mendongkrak imbal hasil Treasury AS tenor panjang, sehingga memberat posisi bursa saham.
Kondisi pasar saham dan proyeksi harga minyak mendapat perhatian khusus dari analis investasi.
"Harga minyak saat ini memang berada di level yang relatif tinggi, tetapi dampaknya belum secara signifikan memperlambat perekonomian," kata Tom Hainlin, National Investment Strategist di US Bank Asset Management.
Ia menambahkan bahwa pergerakan komoditas tersebut masih perlu diwaspadai jika terus melonjak ke level psikologis yang lebih tinggi.
"Kisaran harga US$ 80 hingga US$ 90 per barel belum cukup restriktif untuk memicu penurunan ekonomi yang besar, namun risikonya akan melonjak drastis apabila harga menembus US$ 100 per barel," ujar Hainlin.
Di luar tekanan harian, Wall Street berhasil menutup bulan Agustus di zona hijau, di mana Dow Jones tumbuh lebih dari 1 persen sekaligus membukukan kenaikan bulanan lima bulan berturut-turut. Penguatan bulanan juga diraih S&P 500 sebesar 2,6 persen dan Nasdaq sebesar 3,9 persen, didorong lonjakan sektor teknologi S&P 500 yang naik lebih dari 6 persen akibat penguatan saham berbasis kecerdasan buatan.
Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan pada Jumat bahwa pihaknya masih terus mencermati pergerakan inflasi secara hati-hati.
"Data inflasi pada musim panas memang menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan, namun angka-angka tersebut belum mencerminkan perbaikan signifikan pada tren inflasi yang mendasarinya," kata Kevin Warsh, Ketua The Fed.
Pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada rilis laporan ketenagakerjaan AS bulan Agustus yang dijadwalkan terbit Jumat pekan ini, serta indikator sektor manufaktur, jasa, dan perkembangan pertemuan menteri keuangan negara-negara G20 di Asheville, North Carolina.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow