Wall Street Melemah Sepekan Dampak Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS

Smallest Font
Largest Font

Pasar saham AS di bursa Wall Street mencatat penurunan secara mingguan pada Jumat (21/8/2026), akibat terseret lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah yang mengancam menaikkan biaya pinjaman di tengah tingginya beban utang Amerika Serikat.

Indeks S&P 500 terkoreksi 1,43 persen dan Nasdaq merosot 2,05 persen sepanjang pekan, yang sekaligus menghentikan tren kenaikan tiga pekan berturut-turut. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,85 persen secara mingguan meski sempat menguat 517,80 poin atau 0,98 persen ke level 53.277,01 pada perdagangan Jumat.

Tekanan di pasar modal dan obligasi terus membayangi pemerintahan Presiden Donald Trump. Departemen Keuangan AS merespons situasi ini dengan menggandakan nilai pembelian kembali obligasi Treasury menjadi 4 miliar dolar AS dalam setiap operasi untuk menjaga likuiditas pasar serta menahan laju kenaikan imbal hasil.

Biaya pembiayaan utang pemerintah AS melonjak tajam seiring peningkatan imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun yang menyentuh 5,27 persen pada akhir Juli, level tertinggi sejak 2007. Beban bunga utang pemerintah dalam 12 bulan terakhir telah menembus 1,4 triliun dolar AS dan diproyeksikan melonjak menjadi 1,7 triliun dolar AS per tahun pada November 2028.

"Di pertengahan pekan, investor saham khawatir imbal hasil obligasi akan terus naik tanpa henti. Dengan pengumuman dari Departemen Keuangan, investor sekarang tidak terlalu khawatir lagi," kata Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management di Charlotte, North Carolina.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS juga berisiko mendongkrak suku bunga kredit konsumen seperti hipotek perumahan hingga menembus 7 persen. Selain itu, lonjakan tersebut menguji daya tahan arus modal di pasar obligasi negara berkembang, termasuk pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.

Sentimen pasar makin tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 6,39 persen dalam sepekan akibat kekhawatiran inflasi dan potensi sanksi ekonomi AS terhadap mitra dagang Iran. Di sisi lain, pelaku pasar kini menantikan rilis laporan keuangan kuartalan Nvidia serta data Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve selanjutnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed