Wall Street Menguat Ditopang Saham AI Usai Inflasi AS Sesuai Ekspektasi

Smallest Font
Largest Font

Pasar saham Wall Street menguat pada perdagangan Rabu (12/8/2026) setelah rilis data inflasi Amerika Serikat sesuai dengan perkiraan pasar. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran investor terkait potensi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed pada September mendatang, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Sektor teknologi dan perusahaan yang berfokus pada kecerdasan buatan menjadi pendorong utama pergerakan pasar. Indeks S&P 500 tercatat menguat 0,26% ke level 7.748,50. Sementara itu, Nasdaq Composite melonjak 0,54% menuju level 26.588,49.

Pergerakan berbeda terjadi pada Dow Jones Industrial Average yang turun tipis 21,58 poin atau 0,04% ke posisi 53.770,27.

Data indeks harga konsumen menunjukkan inflasi utama AS naik 0,1% secara bulanan pada Juli 2026. Secara tahunan, tingkat inflasi berada di angka 3,4%.

Adapun inflasi inti yang tidak memperhitungkan sektor energi dan pangan mencatatkan kenaikan 0,2% secara bulanan serta 2,5% secara tahunan. Capaian inflasi tahunan ini melandai jika dibandingkan dengan data periode Juni.

Rilis angka inflasi tersebut makin memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed bakal menahan suku bunga acuan pada pertemuan mendatang. Berdasarkan kalkulasi CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada September kini mencapai kisaran 60%, meningkat dari posisi pekan sebelumnya yang sebesar 45%.

Sinyal ketahanan permintaan infrastruktur AI turut memberikan dampak positif signifikan bagi pergerakan saham teknologi. Saham perusahaan penyedia layanan komputasi awan CoreWeave melonjak 19% setelah membukukan margin laba operasional yang disesuaikan sebesar 5% pada kuartal II, melampaui proyeksi pasar.

Lonjakan harga saham sebesar 19% juga dicatatkan oleh Super Micro Computer berkat proyeksi kinerja kuartal pertama yang solid. Kenaikan turut dialami oleh sejumlah emiten teknologi lain, seperti Dell Technologies yang menguat hampir 10%, Micron Technology yang naik mendekati 5%, serta Cisco Systems yang bertambah hampir 3%.

Sementara itu, saham perusahaan neocloud Nebius yang tercatat di AS mencatatkan lonjakan signifikan hingga 34%.

Meskipun sentimen pasar cenderung positif, potensi risiko inflasi dinilai belum sepenuhnya hilang. Harga minyak mentah AS kembali merangkak naik menembus US$ 83 per barel pada hari yang sama, seiring meredanya harapan pembukaan kembali jalur perdagangan Selat Hormuz.

Chief Economic Strategist Morgan Stanley Wealth Management Ellen Zentner memberikan pandangannya terkait kondisi makroekonomi saat ini.

"Inflasi yang sesuai ekspektasi mempertahankan pandangan bahwa The Fed tidak perlu menaikkan suku bunga setelah data ketenagakerjaan pekan lalu," kata Ellen Zentner.

Ia menambahkan bahwa masih ada satu rilis data inflasi lagi sebelum rapat FOMC September yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter. Namun, selama tidak ada lonjakan signifikan pada data berikutnya, bank sentral diperkirakan tetap berada pada posisi menahan suku bunga.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed