Studi Literatur Menguak Dampak Riset Kesehatan Modern terhadap Lingkungan

Smallest Font
Largest Font

Penulis : *) Ray Wagiu Basrowi 21 Jul 2026 | 00:23 WIB

Studi literatur ini menguak anomali bahwa riset kesehatan modern terbukti tak hanya memperbarui khazanah pengetahuan, inovasi, dan teknologi medis, tetapi juga menstimulasi pabrikasi emisi karbon dan konsumsi energi masif yang memberi tekanan ekologis nyata terhadap bumi. Sejumlah kalkulasi ilmiah mengestimasi valuasi beban lingkungan dari riset kesehatan global ini jauh lebih besar daripada persepsi publik selama ini.

Merujuk pada publikasi Health Care’s Climate Footprint (2024), diperkirakan aktivitas riset sains dan kedokteran global menyumbang 2 gigaton karbon ekuivalen per tahun atau 4,4 persen emisi karbon dunia. Studi skala besar lain dari Stratingh Institute for Chemistry juga menjelaskan bahwa satu laboratorium kimia yang dioperasikan 45 peneliti aktif terbukti mengeluarkan hingga 7-ton limbah kimia berbahaya dalam setahun operasional.

Jumlah yang sangat fantastis untuk ukuran limbah karbon! Andaikan sektor riset kesehatan dunia adalah sebuah negara, maka entitas ini bakal menjadi satu dari lima kontributor emisi karbon terbesar di dunia, sehingga tak ayal menjadi aktor pemberat krisis iklim dan kerusakan ekosistem planet.

Ketika diskursus ini dihadirkan dalam jurisdiksi Indonesia yang berambisi membangun kedaulatan sains dan teknologi nasional, maka diskusinya menjadi analog. Komitmen pemerintah mendorong penguatan investasi riset STEM atau science, technology, engineering, and mathematics, bahkan dengan suntikan anggaran hingga empat triliun rupiah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tentunya melatuk ide inovasi riset dengan dahsyat.

Namun di balik euforia investasi dan romantisme patronasi riset oleh negara ini, sudahkah dampak ekologis menjadi matriks yang jalin-berkelindan dengan ambisi riset nasional?

Bukan Urusan Peneliti?

Sistem riset kesehatan dan sains Indonesia hari ini masih dikemudikan oleh dunia kampus yang notabene tumbuh dengan orientasi mengejar publikasi dan peringkat internasional. Pemerintah pun, bila bisa disorot secara kritis, terkesan masih fokus mengejar indikator kinerja administratif nan populis, seperti terlihat dari narasi teranyar Kemendikti yang malah fokus mengganti nama program studi ‘teknik’ dengan ‘rekayasa’, yang sejatinya agak jauh dari spirit perintisan kedigdayaan sains ramah ekologis.

Dalam kerangka sistem ini, isu reduksi jejak karbon terjerembab dalam kegamangan yang ‘bukan urusan peneliti’, ‘diluar indeks peringkat kampus’, bahkan bukan target penilaian pemberi hibah. Penelitian Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University menemukan status keberlanjutan pengelolaan lingkungan rumah sakit pendidikan terafiliasi riset kesehatan di sejumlah perguruan tinggi Indonesia masih berada pada kategori ‘cukup berkelanjutan’ atau yellow hospital, tak benar-benar hijau.

Kritik terhadap fenomena ini sebenarnya telah lama disuarakan lembaga kesehatan lingkungan dan juga media arus utama di Indonesia. Media nasional seperti Tempo telah sering menyoroti kinerja kampus dan institusi riset yang masih terjebak pada budaya kuantifikasi publikasi, jumlah sitasi, ranking internasional, hingga indikator akreditasi institusi, tanpa pernah menghitung dampak ekologis dan beban lingkungan.

Reduksi jejak karbon sering dianggap ‘bukan urusan peneliti’ juga didukung oleh budaya akademik yang sangat kompetitif namun salah kaprah. Editorial The Lancet sering mengkritik budaya publish or perish universitas dalam mengejar publikasi di jurnal terindeks global tanpa refleksi adekuat terhadap dampak nyatanya bagi masyarakat dan lingkungan.

Belum Berkelanjutan

Hampir seluruh fakultas kedokteran dan sains di Indonesia pasti pumya minimal satu jurnal elektronik dan repositori skripsi dan tesis, beserta server pembelajaran daring, hingga perangkat cloud untuk arsip akademik, demi memenuhi kebutuhan akreditasi. Sekilas seluruh sistem ini tampak ‘paperless’ dan modern, namun digitalisasi sesungguhnya tidak pernah benar-benar tanpa jejak karbon.

International Energy Agency melaporkan bahwa pusat data berbasis kampus dan jaringan transmisinya mengonsumsi hingga 1,5 persen dari total listrik regional dengan konsumsi energi laten melalui pendingin server, komputasi, dan penyimpanan jangka panjang, hingga pemanfaatan akal imitasi. Studi Universitas Groningen membuktikan, tipikal konfigurasi publikasi digital seperti ini terbukti harmful dan pasti menghasilkan total emisi tahunan setara 17-ton limbah plastik per tahun dari aktivitas laboratoriumnya. Sungguh menakjubkan!

Ketika setiap kampus membangun sistem repositori sendiri-sendiri tanpa integrasi nasional yang efisien, maka terdapat akumulasi konsumsi energi digital yang masif yang sudah pasti tidak pernah dihitung dalam kalkulasi ongkos pembangunan riset nasional. Dan masalahnya tidak berhenti di sini.

Banyak penelitian kesehatan di negara ini dilakukan dengan novelty rendah dan cenderung merepetisi tema yang sama. Penelitian tentang perilaku, kepuasan, atau korelasi sederhana terus diproduksi mahasiswa dan bahkan dosen, dalam jumlah besar karena relatif mampu eksekusi dan luarannya bersahabat dengan indikator akreditasi lembaga.

Tanpa disadari, setiap hari kegiatan riset kesehatan berbasis lembaga akademis ini tak berhenti mencetak jejak ekologis yang nyata, entah itu berupa perjalanan enumerator lintas wilayah, penggunaan hotel dan lokasi diskusi kelompok, hingga beban server penyimpanan data digital. Temuan OECD menunjukkan, mayoritas emisi riset kesehatan modern sering berasal dari aktivitas tidak langsung (scope 3 emissions) seperti rantai logistik, mobilitas, dan aktivitas administratif.

Nyaris tidak ada dosen yang mengevaluasi kadar potensi emisi karbon sebuah penelitian seorang mahasiswa program doktor bidang STEM di universitas, bahkan proposal hibah pun hanya dinilai dari metodologi dan luaran paten serta publikasi di jurnal terindeks Scopus tanpa memasukkan dimensi jejak karbon. Dalam perspektif keberlanjutan, ini sangat problematik.

Ketika ini terus terjadi, maka sesungguhnya sistem riset sedang menghasilkan ‘emisi tanpa makna’ yang berakibat pada konsumsi sumber daya bumi bukan semata demi ilmu pengetahuan, tetapi untuk mempertahankan mesin birokrasi akademik itu sendiri. Kajian Metascience (2025) sudah membuktikan bahwa banyak produksi penelitian kesehatan lembaga akademis di negara berkembang termasuk Indonesia, memiliki tingkat utilitas rendah dan absen kalkulasi biaya ekologis.

Sejatinya, kompartemen harga ekologis dalam riset kesehatan dan sains Indonesia wajib masuk daftar tilik peneliti dan afiliasinya. Walaupun tulisan ini belum sanggup menghadirkan horison solusi sistematis, hanya sebatas memantik nalar dan asa tentang potensi beban bumi menanggung dampak riset kesehatan dalam disain akademis Indonesia sekarang, namun tanpa refleksi ekologis yang serius, Indonesia berisiko membangun sistem riset kesehatan yang memperbesar jejak karbon nasional dan memperparah krisis iklim, melalui ribuan aktivitas riset yang mungkin tidak seluruhnya bernilai kemanusiaan yang sepadan.

*) Pendiri Health Collaborative Center (HCC), dan Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed