Penelitian Nature Communications mengaitkan iklim dengan karhutla ekstrem
Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda Kalimantan, dengan ribuan personel dan armada udara dikerahkan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, dilansir dari Detik iNET. Ilmuwan menyoroti mengapa kebakaran ekstrem makin sulit dikendalikan saat kondisi lingkungan mendukung api menyebar. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, dilansir dari Detik iNET, menyatakan perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah meningkatkan peluang terjadinya cuaca kebakaran ekstrem.
Studi berjudul "Climate change has increased the odds of extreme regional forest fire years globally" menyebut cuaca ekstrem membuat kebakaran lebih mudah muncul, menyebar, hingga berkembang menjadi kebakaran sangat besar. Dalam kondisi iklim saat ini, peluang munculnya cuaca kebakaran ekstrem diperkirakan 88-152% lebih tinggi dibanding era praindustri, dilansir dari Detik iNET. Saat kondisi seperti itu terjadi, vegetasi dan material lebih cepat kehilangan kelembapan sehingga bahan bakar kering tersedia lebih banyak.
Peneliti menggunakan indikator Fire Weather Index (FWI) untuk menilai seberapa mendukung kondisi cuaca terhadap terjadinya dan meluasnya kebakaran, dilansir dari Detik iNET. Indeks ini memperhitungkan faktor meteorologis terkait perilaku api, sehingga tahun dengan kebakaran ekstrem umumnya bertepatan dengan fire weather yang ekstrem.
Pada tahun-tahun kebakaran ekstrem, jumlah kebakaran besar meningkat sekitar empat kali lipat dan emisi karbon dari kebakaran meningkat sekitar lima kali lipat dibanding tahun non-ekstrem, dilansir dari Detik iNET. Analisis global juga menunjukkan kenaikan median sekitar 73% pada jumlah kebakaran dan sekitar 321% pada kebakaran berukuran sangat besar dibanding tahun non-ekstrem. Studi yang dianalisis pada periode 2002-2023 menggunakan definisi extreme fire year sebagai tahun dengan luas area terbakar terbesar dalam catatan MODIS di suatu wilayah, dilansir dari Detik iNET. Di sejumlah ekoregion yang diteliti, luas hutan yang terbakar pada tahun ekstrem bahkan setidaknya lima kali lebih besar dibanding rata-rata tahun lain.
Para peneliti menekankan hubungan iklim dan kebakaran tidak sederhana, karena kebakaran dipengaruhi interaksi iklim, kondisi vegetasi, penggunaan lahan, aktivitas manusia, dan karakteristik ekosistem, dilansir dari Detik iNET. Ketika dikaitkan dengan tropis seperti Asia Tenggara, deforestasi dan pembukaan lahan menggunakan api turut berperan, sehingga perubahan iklim tidak dapat disebut sebagai satu-satunya penyebab. Penelitian menyebut kebutuhan sumber daya pemadaman dapat melonjak ketika fire weather ekstrem terjadi secara luas dan bersamaan, dilansir dari Detik iNET. Kalimantan disebut memiliki kawasan hutan tropis luas serta sejumlah wilayah dengan lahan gambut yang mudah terbakar ketika kondisi kering terbentuk.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow