Saham Migas Domestik Menguat Seiring Harga Minyak Brent Tembus USD90

Smallest Font
Largest Font

Sektor saham minyak dan gas bumi di Bursa Efek Indonesia menguat signifikan pada Senin (20/7/2026) paruh pertama perdagangan. Penguatan meluas setelah harga minyak mentah internasional jenis Brent melampaui level USD90 per barel akibat eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran.

Penguatan emiten energi dipimpin PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang melesat 4,43 persen ke posisi Rp1.415 per lembar efek. Sementara itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melonjak 4,03 persen menjadi Rp1.420 dengan nilai transaksi mencapai Rp79,9 miliar.

Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) turut menguat 3,25 persen ke level Rp1.270 per lembar saham. Sektor pendukung jasa migas, PT Elnusa Tbk (ELSA), juga mencatatkan kenaikan 2,34 persen hingga menyentuh harga Rp655 per lembar.

Lompatan kinerja saham energi dalam negeri ini terdorong oleh lonjakan harga komoditas global. Minyak acuan Brent untuk pengiriman September melesat 2,77 persen menembus USD90 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 2,4 persen ke posisi USD84,49 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu ketegangan militer setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan gempuran terhadap target-target Iran selama sembilan malam berturut-turut. Langkah ini diambil usai gugurnya prajurit AS dalam serangan sebelumnya di kawasan Yordania.

Pihak komando militer Amerika Serikat mengonfirmasi fokus sasaran operasi mereka di wilayah konflik tersebut.

"Serangan ini akan terus melemahkan kapabilitas militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz," tulis Komando Sentral AS (Centcom) dalam pernyataan resminya di media sosial X.

Operasi militer AS tersebut menyasar sistem pengawasan pantai, pertahanan udara, aset maritim, serta fasilitas drone Iran. Rangkaian gempuran ini juga membidik unit Korps Garda Revolusi Islam yang diduga terlibat dalam serangan 17 Juli lalu.

Analis ekonomi memberikan pandangan terkait dampak pengetatan rantai pasok minyak dunia pasca-insiden tersebut.

"Dengan tingkat penyusutan seperti ini, pasokan minyak akan menjadi sangat ketat pada September mendatang, dan bahkan Amerika Serikat pun akan mulai tertekan. Situasi tersebut dipastikan bakal meningkatkan tekanan politik bagi Presiden Trump. Tetap ambil posisi long (beli) pada Brent dengan target harga 95 hingga 105 dolar AS per barel," pasar David Roche dari Quantum Strategy dalam catatan risetnya pada Senin.

Sebelum eskalasi terbaru pecah, riset dari lembaga keuangan internasional sempat memetakan kekhawatiran pasar terkait stabilitas kawasan.

"Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa kesepakatan damai yang rapuh dapat runtuh," tulis analis ANZ Research dalam laporannya.

Pihak ANZ Research menambahkan bahwa lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz sempat mengalami peningkatan selama masa kesepakatan damai berlangsung. Namun, BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan kenaikan harga minyak global saat ini tetap menjadi sentimen positif jangka pendek bagi emiten energi nasional seperti MEDC, ENRG, ELSA, PGEO, dan AKRA.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed