Asing Beli Saham BBRI Rp 155 Miliar Saat IHSG Net Sell

Smallest Font
Largest Font

Investor asing mencatatkan aksi beli bersih atau net buy pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 155,2 miliar di pasar reguler Bursa Efek Indonesia, Rabu (2/9/2026).

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang dilansir dari Investor Daily, BBRI menjadi saham yang paling banyak diburu pemodal luar negeri. Selain BBRI, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga membukukan net buy asing senilai Rp 154,4 miliar.

Aksi beli pada saham perbankan tersebut terjadi di tengah tekanan aksi jual. Secara keseluruhan, pemodal asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp 326,6 miliar di seluruh pasar BEI pada hari yang sama, sehingga akumulasi net sell asing sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 69,09 triliun.

Tekanan jual terbanyak dialami oleh saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan net sell Rp 101,8 miliar, disusul PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebesar Rp 89,9 miliar.

Di sisi kinerjanya, BRI membukukan laba bersih (bank only) periode Januari hingga Juli 2026 sebesar Rp 30,9 triliun. Angka tersebut tumbuh 8 persen secara tahunan (yoy) dan telah memenuhi 53 persen dari estimasi konsensus untuk laba konsolidasi tahun 2026.

Khusus pada Juli 2026, laba bersih BRI tercatat sebesar Rp 3,4 triliun. Capaian bulanan ini mengalami penurunan 12 persen yoy dan 53 persen secara bulanan (mom).

"Penurunan secara tahunan terutama disebabkan oleh kenaikan beban provisi," ungkap Stockbit dalam ulasannya, Rabu (2/9/2026).

Meskipun laba bulanan tertekan, pre-provision operating profit (PPOP) BBRI pada Juli masih tumbuh 3 persen yoy. Namun, pertumbuhan PPOP ini lebih rendah dibandingkan capaian Januari–Juli 2026 yang tumbuh 8 persen yoy.

Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih (NII) BBRI pada Juli 2026 turun 2 persen yoy. Hal ini berbanding terbalik dengan periode Januari–Juli 2026 yang masih mencatatkan kenaikan 4 persen.

"Kondisi itu dipicu oleh kenaikan beban pendanaan," sebut Stockbit.

Beban bunga perseroan meningkat 5 persen yoy dan 11 persen mom seiring dengan pertumbuhan deposito berjangka sebesar 10 persen yoy dan 8 persen mom. Hal ini menekan margin bunga bersih (NIM) Juli 2026 menjadi 5,6 persen, turun dari 6,1 persen pada Juli 2025 dan 6,8 persen pada Juni 2026. Kumulatif NIM Januari–Juli 2026 tercatat sebesar 6,3 persen, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 6,5 persen.

Beban provisi pada Juli 2026 mencapai Rp 3,6 triliun, naik 21 persen yoy meski turun 16 persen mom. Biaya kredit (CoC) mencatatkan perbaikan ke level 3 persen setelah sempat menyentuh 3,8 persen pada Mei 2026.

Stockbit memperkirakan tekanan margin yang terjadi pada Juli bersifat sementara karena likuiditas perbankan mulai melonggar dalam satu bulan terakhir. Kualitas aset dan pencadangan BRI menunjukkan tren positif, meski risiko El Nino menjelang akhir tahun serta keberlanjutan ekspansi segmen mikro tetap menjadi perhatian pasar.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed