IHSG Ditutup Melemah Ke Level 6595 Pada Perdagangan Rabu
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tipis sebesar 4,17 poin atau 0,06 persen ke posisi 6.595,7 pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026), dilansir dari Investor Daily.
Aktivitas perdagangan di bursa mencatatkan total nilai transaksi mencapai Rp 16,7 triliun. Sebanyak 276 saham mencatatkan kenaikan, 343 saham mengalami penurunan, dan 344 saham bertahan stagnan.
Sektor teknologi memimpin penguatan mayoritas sektor saham sebesar 3,7 persen. Diikuti sektor keuangan yang naik 0,63 persen, barang konsumen non-primer 0,53 persen, barang konsumen primer 0,37 persen, serta transportasi 0,35 persen.
Sebaliknya, sektor barang baku mengalami koreksi terdalam sebesar 1,34 persen. Pelemahan juga terjadi pada sektor infrastruktur 0,95 persen, perindustrian 0,81 persen, energi 0,63 persen, properti 0,39 persen, dan kesehatan 0,23 persen.
Di tengah pelemahan indeks, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) memimpin penguatan di indeks LQ45 dengan lonjakan 2,8 persen. Delapan saham juga berhasil menyentuh Auto Rejection Atas (ARA), termasuk NATO, SAPX, PTSP, BELI, LUCY, FLMC, HBAT, dan PLAN.
Lima saham pencetak keuntungan terbesar mencatatkan kenaikan harga 21 persen hingga 25 persen. PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) melesat 25 persen ke Rp 975, PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX) melejit 25 persen ke Rp 270, dan PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) melonjak 24,6 persen ke Rp 1.415.
Selain itu, saham PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) menguat 24,5 persen menjadi Rp 406 dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) terangkat 21,1 persen ke Rp 132.
Sebaliknya, penurunan tajam melanda PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) yang merosot 14,7 persen ke Rp 121, PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) anjlok 13,7 persen ke Rp 226, serta PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) turun 11,4 persen ke Rp 248.
Saham PT Multisarana Intan Eduka Tbk (MSIE) turut terkoreksi 7,14 persen menjadi Rp 117 dan PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) tergerus 6,9 persen ke Rp 120.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG dipicu sentimen global, terutama lonjakan harga minyak mentah akibat peningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran inflasi.
Kondisi tersebut mendorong aksi jual obligasi global hingga meningkatkan yield, yang kemudian memberi tekanan pada aset berisiko. Kendati demikian, kinerja neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus US$ 0,12 miliar pada Juli 2026 menjadi katalis positif penahan laju penurunan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow