Saham BUMI Melonjak Terdorong Aksi Borong dan Kinerja Kuartal II
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melonjak 6,32 persen ke level Rp 202 pada perdagangan sesi pertama, Jumat (21/8/2026).
Lonjakan emiten Grup Bakrie dan Salim ini didorong oleh aksi borong investor secara masif. Berdasarkan catatan pasar, perseroan membukukan nilai pembelian bersih tertinggi di antara saham lainnya yang menyentuh angka Rp 273 miliar, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Sentimen pasar makin kuat setelah posisi perusahaan dipastikan tetap aman dalam tinjauan indeks teranyar. Perseroan tidak dikeluarkan dari daftar MSCI Global Small Cap Index Indonesia untuk periode Agustus 2026.
Laju positif ini sejalan dengan kinerja operasional kuartal kedua 2026 yang tumbuh tajam. Perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$ 35 juta, melesat 1.266,2 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.
Dari aspek penjualan, pendapatan emiten mencapai US$ 449 juta atau naik 36,4 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini banyak disumbang oleh peningkatan volume batu bara Arutmin sebesar 29,6 persen dan harga jual rata-rata yang naik 17,5 persen.
Laporan teknikal pergerakan pasar turut menyoroti prospek emiten sektor pertambangan tersebut dengan target harga terdekat yang dinilai strategis bagi investor.
"BUMI jika mampu breakout 190, saham berpotensi melanjutkan penguatan menuju 196-204," tulis ulasan perdagangan harian BRI Danareksa Sekuritas.
Di sisi fundamental, prospek usaha perusahaan diyakini makin kuat menuju akhir tahun akibat rangkaian strategi akuisisi korporasi. Kinerja perseroan diproyeksikan tertopang oleh operasi proyek emas Wolfram yang dimulai sejak akhir Mei lalu serta penyelesaian akuisisi Loyal Metal Mining.
Potensi penurunan biaya tunai akibat meredanya beban bahan bakar juga diperkirakan mengurangi tekanan terhadap margin. Hal tersebut didukung oleh masuknya pemulihan laba PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang akan menambah daya dorong laporan keuangan.
"Selain bisnis emas, prospek batu bara BUMI mendapat katalis dari potensi kenaikan harga akibat El Nino, sementara volume produksi relatif terlindungi melalui penggunaan conveyor belt," urai laporan riset Samuel Sekuritas Indonesia.
Penilaian stabil terhadap fundamental ini membuat perseroan mendapat rekomendasi beli dengan target harga Rp 300 melalui metode valuasi penjumlahan unit aset.
Kendati proyeksi terlihat positif, tetap terdapat sejumlah risiko pasar yang perlu diperhatikan sebelum munculnya dampak penuh dari fenomena anomali cuaca. Harga komoditas memiliki kemungkinan melemah pada rentang waktu jangka pendek akibat penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya pada Juli 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow