Delapan Raksasa Minyak Dunia Meraup Laba Rp 1.600 Triliun
Lonjakan harga minyak mentah akibat konflik militer antara AS-Israel dan Iran memicu kenaikan laba gabungan delapan perusahaan energi terbesar dunia hingga melampaui US$ 90 miliar atau sekitar Rp 1.600 triliun pada kuartal II-2026, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Senin (17/8/2026).
Perolehan tersebut menunjukkan lonjakan keuntungan hampir dua kali lipat dibanding kuartal II tahun sebelumnya yang berada di bawah US$ 50 miliar. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi pemicu utama terganggunya pasokan fosil global, sehingga mendongkrak harga minyak patokan Brent dari US$ 68 per barel pada Februari menjadi mendekati US$ 100 per barel pada Mei.
Delapan korporasi global yang mencatatkan Lonjakan pendapatan ini meliputi Aramco, BP, Shell, Equinor, TotalEnergies, Eni, Chevron, dan ExxonMobil. Aramco membukukan kenaikan laba bersih 34 persen menjadi US$ 33 miliar, sementara Chevron mengantongi pendapatan yang disesuaikan sebesar US$ 12 miliar dengan sumbangan bisnis hulu mencapai US$ 8,2 miliar.
Kepala Bagian Keuangan Chevron, Eimear Bonner, menggarisbawahi komitmen operasional perusahaan di tengah dinamika geopolitik dunia.
"Di tengah semua ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar yang masih kita alami, kami terus menyediakan energi andal yang dibutuhkan dunia," kata Bonner.
Di sisi lain, raksasa energi asal Inggris, BP, mengantongi laba kuartal II sebesar US$ 5,73 miliar yang merupakan pencapaian tertinggi sejak kuartal III-2022. Kinerja finansial yang melonjak drastis ini menuai gelombang kritik keras dari berbagai pihak yang menilai industri fosil mengeruk keuntungan berlebih di atas beban ekonomi masyarakat.
Kepala bagian bahan bakar fosil di Global Witness, Patrick Galey, menyampaikan kecaman terhadap perolehan margin keuntungan BP.
"Keuntungan BP yang sangat tinggi merupakan pengingat yang memalukan tentang siapa yang telah mengeruk keuntungan dari penderitaan manusia tahun ini. Sementara kebakaran hutan mengancam komunitas di seluruh dunia, kekeringan melanda dan biaya energi meroket, keluarga biasa membayar harga atas prioritas perusahaan minyak besar terhadap kekayaan pemegang saham daripada planet yang layak huni," ujar Galey.
Galey mendesak penjatuhan sanksi finansial berupa pembiayaan pemulihan ekosistem kepada para produsen energi global tersebut.
"Sudah saatnya membuat raksasa minyak membayar untuk memperbaiki kerusakan iklim yang mereka sebabkan," tambahnya.
Tingginya keuntungan korporasi minyak juga memicu wacana penerapan pajak keuntungan tak terduga (windfall tax) untuk mensubsidi tagihan masyarakat. Kritik senada disampaikan Presiden AS Donald Trump yang menyoroti perolehan margin bisnis ExxonMobil dan Chevron pada 3 Agustus.
"Mereka menghasilkan terlalu banyak uang berdasarkan kelangkaan," kata Trump.
Trump menilai lonjakan keuntungan tersebut tidak wajar meski dirinya mendukung iklim pasar bebas.
"Saya tidak menyukainya, dan saya seharusnya menjadi orang terakhir yang mengatakannya karena saya adalah pendukung besar usaha bebas—tidak ada yang lebih besar dari saya," lanjutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow