Eskalasi Konflik AS Iran Dorong Lonjakan Harga Minyak dan Imbal Hasil UST

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran pada awal September 2026 memicu lonjakan harga minyak mentah internasional dan imbal hasil US Treasury. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan serta kekhawatiran atas lonjakan inflasi global. Harga minyak jenis Brent tercatat melonjak hingga 2,71 persen ke level 90,49 dolar AS per barel, sementara jenis WTI menguat ke posisi 85,76 dolar AS per barel.

Tren kenaikan berlanjut hingga Brent menyentuh 91,05 dolar AS per barel akibat potensi gangguan jalur pelayaran energi di Selat Hormuz. Analis dari Agrodana Research memproyeksikan pasar minyak masih sangat sensitif terhadap dinamika di Timur Tengah. Jika aksi militer berlanjut, harga minyak diperkirakan berpeluang menembus area 93 hingga 95 dolar AS per barel, bahkan berpotensi menuju 100 dolar AS per barel.

Di sisi keuangan global, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik mendekati 4,78 persen. Hal tersebut dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga hawkish dari The Fed untuk meredam risiko inflasi akibat kenaikan biaya energi.

Dampak gejolak ini turut menekan nilai tukar rupiah hingga menyentuh kisaran Rp17.710 per dolar AS. Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan masih mencatatkan penguatan tipis 0,11 persen ke level 6.525,48. Di pasar komoditas emas, harga bergerak relatif volatil dengan potensi rebound teknis akibat kondisi jenuh jual, meskipun tekanan dari dolar AS dan kenaikan suku bunga global masih membayangi pasar. Investor disarankan mencermati instrumen berrisiko rendah seperti Sukuk Ritel SR025 atau reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed