Presiden Iran Hadapi Sanksi AS dan Konflik Ekonomi
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan Teheran kini berada dalam perang skala penuh di bidang ekonomi, militer, dan keamanan akibat sanksi baru dari Amerika Serikat pada Sabtu (22/8/2026). Sanksi baru washington tersebut dirancang untuk makin mengisolasi perekonomian Iran.
Teheran dilanda berbagai persoalan domestik seiring tekanan ekonomi yang kian meningkat. Pemerintah Iran juga mencatatkan sejarah kerusuhan massa akibat lonjakan biaya hidup dan inflasi sejak akhir tahun lalu.
"Saya memahami bahwa kita memiliki banyak masalah di masyarakat saat ini. Kami berupaya mencegah hal-hal tersebut semaksimal mungkin," ujar Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah, dilansir AFP.
Tekanan internasional berujung pada pengumuman kampanye sanksi baru dari Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Donald Trump. Kebijakan pembatasan ekonomi ini berdampak langsung pada stabilitas domestik Iran.
"Dia mengatakan sedang menjatuhkan sanksi yang paling menghancurkan dan mengerikan terhadap Iran," kata Pezeshkian.
Pemerintah Iran mencatat lebih dari 3.000 kematian dalam gelombang protes massal yang melanda berbagai kota. Pezeshkian menegaskan pihak berwenang berupaya keras menjaga kestabilan ekonomi nasional dan kesejahteraan warga.
"Kami berupaya sekuat tenaga untuk mengatasi inflasi, masalah penghidupan, pengangguran, serta menjamin masa depan rakyat, agar mereka dapat hidup dengan bermartabat dan penuh kebanggaan," ujar Pezeshkian.
Di sisi lain, laporan IRNA mencatat Pezeshkian mendesak agar negaranya segera keluar dari kondisi ketidakpastian keamanan. Ia menilai situasi "bukan perang, bukan damai" sangat merugikan iklim investasi.
Presiden Iran itu juga membela nota kesepahaman yang dicapai dengan AS pada Juni lalu melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Meski pembicaraan sempat terhenti karena perselisihan jalur Selat Hormuz, Teheran menegaskan tidak berniat memberikan konsesi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow