Harga Minyak Dunia Anjlok Pasca Pengumuman Sanksi Ekonomi AS

Smallest Font
Largest Font

Harga minyak mentah dunia ditutup merosot lebih dari 3 persen pada Selasa (25/8/2026). Penurunan ini terjadi setelah para pelaku pasar menilai kampanye sanksi ekonomi terbaru Amerika Serikat terhadap Iran membawa risiko gangguan pasokan yang lebih kecil dibandingkan potensi eskalasi militer.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent anjlok 3,59 dolar AS atau 3,9 persen ke level 88,58 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS menyusut 2,65 dolar AS atau 3,1 persen menjadi 82,36 dolar AS per barel.

Penurunan harga ini merespons pengumuman perluasan sanksi oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin untuk memutus sumber ekonomi Teheran. Sanksi tersebut mewajibkan negara-negara yang berbisnis dengan Iran memutus hubungan atau berisiko dikeluarkan dari sistem keuangan berbasis dolar AS.

Kepala strategi komoditas Saxo Bank Ole Hansen menilai pergeseran fokus dari konflik militer ke tekanan ekonomi telah mengurangi sebagian kekhawatiran pasar minyak. Ia menambahkan bahwa pengumuman sanksi Washington tersebut tidak sekeras yang diperkirakan sebagian pedagang.

Analis pasar KCM Tim Waterer menyampaikan pandangannya mengenai dinamika harga yang terjadi di pasar komoditas tersebut.

"Pasar tampaknya menilai tekanan ekonomi sebagai jalur dengan risiko lebih rendah terhadap pasokan fisik dibandingkan aksi militer. Itu sebabnya reaksi awal pasar adalah harga minyak turun, bukan melonjak," ujar Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM.

Meski harga sempat merosot, Tim Waterer mengingatkan bahwa premi risiko tetap membayangi pergerakan harga komoditas utama tersebut.

"Iran masih memiliki kemampuan untuk merespons dengan mengganggu pelayaran, hal yang terus mempertahankan adanya premi risiko pada harga minyak," kata Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM.

Ancaman gangguan navigasi terbukti saat United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal di 9 mil laut timur laut Ash Shishah, Oman, pada Selasa. Di samping itu, Iran dan Oman menyatakan telah membahas usulan koridor navigasi sementara bersama serta pembersihan ranjau di Selat Hormuz.

Tekanan pasar juga berdampak pada cadangan minyak AS. Departemen Energi AS melaporkan stok Strategic Petroleum Reserve turun 3,7 juta barel menjadi 289,7 juta barel pada pekan lalu, yang merupakan level terendah sejak November 1982.

Sementara itu, pemerintah AS menyatakan tetap berupaya menjaga aliran energi. Wakil Presiden AS JD Vance dalam wawancara dengan Newsmax yang dikutip Fars News Agency menyebut Washington berupaya mencegah krisis energi global sekaligus memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.

Vance mengeklaim AS masih mampu mengalirkan 7 juta hingga 15 juta barel minyak per hari dari kawasan Teluk meski ada ancaman penutupan Selat Hormuz. Namun, Fars News Agency mencatat klaim kemampuan aliran minyak tersebut telah berulang kali dibantah oleh lembaga pemantau maritim dan media Amerika Serikat.

Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa kerja sama kerangka hukum internasional antara Beijing dan Iran akan terus berjalan serta tidak boleh diganggu oleh sanksi sepihak.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed