Premi Unit Link Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 10,3 Persen
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat pendapatan premi asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link tumbuh 10,3 persen secara tahunan (yoy) mencapai Rp 35,73 triliun pada semester I-2026 di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Pertumbuhan tersebut menunjukkan penguatan signifikan dibandingkan kuartal I-2026 yang tumbuh 3,68 persen yoy, sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Lonjakan ini terjadi setelah kinerja produk unit link sempat tertekan sejak 2023 akibat penerbitan regulasi SEOJK 5/2022 serta penurunan 11,7 persen yoy pada semester I-2025.
Peningkatan minat masyarakat juga tecermin dari produksi premi unit link dari bisnis baru yang melonjak 34,5 persen yoy menjadi Rp 19,78 triliun pada semester I-2026.
Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo, menjelaskan bahwa minat masyarakat terhadap produk unit link mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan produk asuransi tradisional, meskipun kedua jenis produk tersebut sama-sama mencatatkan pertumbuhan.
"Jadi ini kita lihat kebutuhan atau animo masyarakat terhadap unit link itu agak meningkat lebih tinggi daripada tradisionalnya, tapi sama-sama tumbuh," ungkap Albertus dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Tren positif pada paruh pertama tahun ini menandai pemulihan industri setelah beberapa kuartal sebelumnya terus menunjukkan penurunan performa.
"Ya mungkin teman-teman masih ingat beberapa kuartal kita press conference, unit link ini mengalami penurunan, tapi semester ini mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan 34,5%," beber Albertus.
Perkembangan bisnis baru tersebut dipandang sebagai petunjuk kuat bahwa nasabah mulai kembali memilih produk yang memadukan proteksi dengan investasi setelah sempat menahan diri.
"Kita melihat memang dinamika masyarakat itu bisa berubah-ubah ya. Semester pertama ini memang daya tarik masyarakat itu lebih ke produk unit link, karena ada investasinya," imbuh Albertus.
Selain faktor agen pemasar, pergeseran preferensi nasabah dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan, di mana tenaga pemasar mengedukasi masyarakat untuk memanfaatkan momentum penurunan imbal hasil instrumen investasi lain demi pemupukan modal jangka panjang.
"Mungkin juga melihat instrumen investasi pada turun semua, jadi kesempatan untuk masuk. Karena unit link itu kan ada komponen investasinya, ya maksudnya advisor kita pada ngomong sama nasabah, 'Ini adalah waktu yang tepat bagi Anda untuk masuk ke produk ini.' Karena itu bisa untung ke depan untuk jangka panjang. Jadi saya rasa itu salah satu mungkin penyebabnya," urai dia.
Guna menjaga momentum pemulihan ini, pihak asosiasi berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola serta transparansi penjualan produk unit link di masyarakat.
"Kita ingin menjual dengan lebih transparan, dengan lebih terbuka. Sehingga kemampuan tenaga pemasar untuk mengetahui pasar mana yang bisa atau cocok untuk produk unit link mana, atau yang enggak (cocok), itu juga harus kita tingkatkan terus, sehingga nanti peningkatannya bersama-sama dengan tradisional dan peningkatannya memang didorong oleh kebutuhan nasabah," tandas Albertus.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow