Premi Asuransi Jiwa Capai Rp 94 75 Triliun Semester I 2026

Smallest Font
Largest Font

Pendapatan premi industri asuransi jiwa di Indonesia tercatat mencapai Rp 94,75 triliun pada semester I-2026 atau tumbuh 8,2% secara tahunan (yoy), sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Senin (31/8/2026). Pertumbuhan kinerja ini ditopang oleh penguatan produk tradisional maupun asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat produk tradisional memberikan kontribusi sebesar Rp 59,03 triliun atau naik 6,9% yoy, yang setara dengan 62,3% dari total premi. Sementara itu, pendapatan premi unit link mengalami kenaikan 10,3% yoy menjadi Rp 35,73 triliun dengan pangsa pasar 37,7%.

"Premi berdasarkan jenis produk, kalau kita lihat berdasarkan produk baik produk tradisional maupun produk unit link sama-sama menunjukkan pertumbuhan tahun ini," ungkap Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Lonjakan signifikan juga terjadi pada penulisan premi bisnis baru. Produk tradisional mencatat premi bisnis baru sebesar Rp 37,97 triliun atau tumbuh 14,2% yoy, sedangkan premi bisnis baru unit link melesat hingga 34,5% yoy menjadi Rp 19,78 triliun.

"Jadi ini kita lihat kebutuhan atau animo masyarakat terhadap unit link itu agak meningkat lebih tinggi daripada tradisionalnya, tapi sama-sama tumbuh," beber Albertus.

Capaian positif unit link pada paruh pertama tahun ini menandai titik balik pemulihan setelah sebelumnya sempat menurun. Pada semester I-2025, premi unit link tercatat mengalami kontraksi 11,7% yoy ke angka Rp 32,4 triliun dari total premi industri sebesar Rp 87,60 triliun.

"Kita melihat memang dinamika masyarakat itu bisa berubah-ubah ya. Semester pertama ini memang daya tarik masyarakat itu lebih ke produk unit link, karena ada investasinya," imbuh Albertus.

Guna menjaga momentum pertumbuhan positif ini, AAJI menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kapasitas tenaga pemasar serta mendorong aspek transparansi dalam penjualan produk kepada calon nasabah.

"Kita ingin menjual dengan lebih transparan, dengan lebih terbuka. Sehingga kemampuan tenaga pemasar Untuk mengetahui pasar mana yang bisa atau cocok untuk produk unit link mana, atau yang enggak (cocok), itu juga harus kita tingkatkan terus, sehingga nanti peningkatannya bersama-sama dengan tradisional dan peningkatannya memang di-drive oleh kebutuhan nasabah," tandas Albertus.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed