Perang Iran Tekan Anggaran Militer AS dan Menguras Stok Rudal Patriot

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran menguras anggaran operasional Angkatan Laut AS serta menipiskan stok rudal pencegat Patriot di Eropa hingga berada pada tingkat kritis pada Jumat (28/8/2026). Penurunan pasokan logistik militer ini mengancam kesiapan tempur NATO sekaligus memicu krisis keuangan internal di tubuh Pentagon.

Keterlibatan militer AS dalam operasi laut dan serangan udara di Timur Tengah memicu defisit anggaran yang berdampak langsung pada pengalihan pos gaji personel untuk menutupi biaya perang tak terduga. Pada saat bersamaan, pemindahan amunisi ke Asia Barat membuat persediaan rudal Patriot militer AS menyusut hingga 65 persen.

Kondisi keuangan Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan makin memburuk akibat besarnya pengeluaran operasi blokade laut sejak akhir Februari. Dokumen rahasia Pentagon memperlihatkan alokasi dana gaji prajurit sempat dialihkan guna membiayai operasi perang di luar negeri sebelum ditutup dengan anggaran tersisa lainnya.

"Celengan Angkatan Laut Amerika Serikat sudah pecah," kata Harlan Ullman, Pensiunan Perwira Angkatan Laut AS sekaligus Anggota National Commission on the Future of the Navy.

Pengalihan dana tersebut dilakukan demi menjaga agar pembayaran upah prajurit tetap berjalan di tengah defisit. Kebijakan ini menuai sorotan tajam dari internal militer dan Komite Alokasi Anggaran Senat AS.

"Uang untuk gaji dan upah dicuri untuk membiayai pengeluaran tak terduga di luar negeri, kemudian diganti dengan uang yang belum terpakai agar gaji personel tetap dibayarkan," kata Seorang Pejabat Angkatan Laut AS.

Pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengajukan anggaran tambahan sebesar 67 miliar dolar AS untuk Pentagon setelah biaya perang diperkirakan mencapai 35,7 miliar dolar AS pada Juli. Namun, langkah penambahan anggaran tersebut menghadapi penolakan kuat di Kongres AS.

"Mereka sudah tidak berdaya. Semua amunisi mereka telah ditembakkan, kapal-kapal mereka tidak beroperasi, dan uang mereka sudah habis," kata Seorang Mantan Perwira Militer Kontraktor Angkatan Laut AS.

Selain krisis anggaran, pengiriman pasokan senjata ke wilayah konflik membuat persediaan pertahanan udara di Eropa berada pada titik mengkhawatirkan. Pensiunan Kolonel Korps Marinir AS Mark Cancian mencatat sekitar 1.500 dari total 2.330 rudal Patriot milik AS telah ditembakkan atau dipindahkan, sehingga kemampuan pasukan AS dan NATO dalam merespons ancaman balistik skala besar menjadi sangat terbatas.

Di tengah tekanan militer dan finansial, perang informasi juga memanas di ranah kecerdasan buatan (AI). Investigasi media menemukan adanya kampanye bernilai puluhan juta dolar yang memanfaatkan lembaga pemikir Hanover Institute untuk mempublikasikan ratusan laporan guna memengaruhi data pelatihan chatbot AI terkait narasi konflik Gaza dan Israel.

"Situs tersebut pada pandangan pertama terlihat profesional dan akademis," kata Nick Cleveland-Stout, Peneliti Quincy Institute.

Laporan tersebut dirancang secara teknis agar mudah dikutip oleh mesin AI dan membiaskan persepsi publik. Namun, sebagian argumen di dalamnya dinilai tidak konsisten oleh para pengamat.

Sementara itu, dinamika politik internal AS kian memanas setelah laporan media mengungkapkan adanya keinginan untuk membuka jalur diplomasi. Presiden Donald Trump secara terbuka membantah kabar mengenai rencana perundingan langsung dengan pihak Teheran.

"Saya tidak ingin bertemu dengan pejabat Iran," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump menegaskan bahwa pihak Iran yang berusaha mengajukan penawaran dan meminta pertemuan dengan pemerintahannya. Hingga kini, hambatan politik di Kongres AS masih menahan pengesahan rancangan undang-undang anggaran pertahanan baru.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed