AS Hadapi Kerusakan Pangkalan Militer dan Krisis Logistik di Teluk

Smallest Font
Largest Font

Militer Amerika Serikat terancam kehilangan akses permanen ke 15 pangkalan militer di kawasan Teluk menyusul kerusakan berat akibat serangan balasan Iran, sementara kendala logistik memicu krisis kesehatan mental prajurit di kapal induk USS Abraham Lincoln pada Agustus 2026.

Analisis kerusakan fasilitas militer tersebut diungkapkan purnawirawan jenderal Angkatan Darat AS, Barry McCaffrey. Dampak peperangan membuat Washington mempertimbangkan pengurangan kehadiran pasukan di Timur Tengah tanpa memulihkan fasilitas ke kondisi semula.

"Menurut saya, militer Amerika telah kehilangan akses ke 15 pangkalan militernya di Teluk untuk selamanya," kata Barry McCaffrey, Analis Keamanan MS NOW.

McCaffrey menambahkan bahwa Iran kini memegang kendali atas jalur menuju negara-negara Arab di pesisir Teluk. Kondisi ini memaksa Washington menempuh negosiasi diplomatik demi memulihkan akses ke wilayah barat Arab Saudi, Israel, dan Eropa Selatan.

Penilaian tersebut sejalan dengan laporan wacana pengurangan pangkalan yang ditinjau oleh Staf Gabungan dan Komando Pusat AS (CENTCOM). CENTCOM umumnya menempatkan sekitar 40 ribu prajurit di 20 situs militer kawasan tersebut.

Di sisi lain, kehancuran pusat logistik utama di Bahrain menjalar pada gangguan pasokan armada laut. Jurnalis senior MS NOW, David Rohde, menuding Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyembunyikan fakta kehancuran pangkalan pasokan utama tersebut dari publik.

"Pete Hegseth menyembunyikan fakta bahwa Iran menghancurkan pangkalan pasokan utama yang dimiliki Amerika Serikat di Teluk," kata David Rohde, Wartawan Senior Keamanan Nasional MS NOW.

Ia mengritik cara penanganan transparansi perang yang dinilai buruk oleh kepemimpinan militer.

"Dia tidak membuatnya menjadi informasi publik dalam konferensi pers demi konferensi pers, dan sekali lagi, itulah cara mereka menangani perang ini secara buruk," tutur David Rohde.

Tudingan tersebut dibantah keras oleh pihak Pentagon yang menilai informasi kehancuran pangkalan sebagai kebohongan media. Namun, fakta di lapangan menunjukkan jalur distribusi logistik terpaksa dipindahkan ke pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia yang berjarak 2.200 mil.

"Jelas salah," kata Joel Valdez, Pelaksana Tugas Juru Bicara Pentagon.

Pemindahan jalur logistik yang semakin jauh berdampak langsung pada kondisi kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal yang beroperasi mendekati sembilan bulan di laut tanpa rotasi normal itu memicu keprihatinan anggota parlemen AS terkait sanitasi dan kesehatan mental awak.

Presiden AS Donald Trump berusaha meredam kekhawatiran publik dengan menjanjikan rotasi kapal induk dalam waktu dekat.

"Kapal itu sedang bergerak sekarang, atau segera, dan akan digantikan dengan kapal yang sangat mirip," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pemerintah AS telah menunjuk USS George Washington dari Jepang untuk menggantikan posisi Lincoln di kawasan Timur Tengah.

Menanggapi sorotan kondisi prajurit, Menhan AS menegaskan komitmen penanganan armada di lapangan.

"Kami memastikan setiap kapal, setiap awak, setiap kapten mendapatkan segala sesuatu yang dapat kami berikan pada setiap saat," kata Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat.

Ia menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi para prajurit yang bertugas melebihi durasi normal.

"Saya memiliki rasa hormat dan rasa terima kasih yang lebih besar kepada para pelaut tersebut daripada siapa pun," tutur Pete Hegseth.

Guna meredam eskalasi, diplomasi regional juga diwarnai bantahan atas insiden serangan rudal di luar area konflik utama.

"Dengan tegas menolak klaim Uni Emirat Arab bahwa Iran telah meluncurkan rudal ke arah negara itu," kata Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Sementara itu, ketegangan verbal mengenai klaim kedaulatan di jalur pelayaran vital Selat Hormuz terus berlanjut antara pihak Teheran dan Washington.

"Sama seperti Trump yang menyebut Teluk Persia dengan nama yang tepat, khayalannya tentang Selat Hormuz akan segera dihilangkan, atau kami yang akan meluruskan orang delusional ini," kata Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.

Hingga saat ini CENTCOM mencatat tidak ada personel yang meninggal dunia di kapal induk USS Abraham Lincoln, meski laporan independen mencatat adanya beberapa insiden percobaan bunuh diri yang berhasil digagalkan sesama awak kapal.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed