Pengunjung Mal dan Pameran Otomotif Ramai akibat Segmentasi Konsumen

Smallest Font
Largest Font

Pusat perbelanjaan hingga pameran otomotif di kota-kota besar tetap dipadati masyarakat di tengah isu penurunan daya beli. Namun, kondisi tersebut tidak dapat menjadi tolok ukur bahwa kemampuan belanja masyarakat secara menyeluruh masih kuat.

Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai pola konsumsi masyarakat saat ini semakin tersegmentasi, sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Keramaian di tempat hiburan dan pameran lebih banyak didorong oleh kelompok menengah atas.

"Keramaian ini segmented ya hanya di kota-kota besar, Jabodetabek begitu ya. Tidak di segala macam tempatnya," kata Eko.

Eko menjelaskan bahwa kelompok masyarakat berpendapatan menengah atas masih memiliki dana simpanan yang memadai. Kelompok pemilik tabungan di atas Rp 5 miliar menjadi penopang utama tingginya kunjungan pada pameran otomotif dan pusat perbelanjaan di wilayah perkotaan.

"Kalau pada daerah-daerah yang menjadi kantong-kantong masyarakat kelas menengah atas tadi yang tabungannya miliaran tadi ya di atas Rp 5 miliar kira-kira begitu itu tetap saja pameran-pameran otomotif dan sebagainya itu ya itu diserbu banyak orang," ujar Eko.

Data pertumbuhan simpanan masyarakat secara agregat memang menunjukkan kenaikan. Meskipun demikian, peningkatan saldo tabungan terbesar tetap didominasi oleh kelompok masyarakat kelas atas.

Aktivitas pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang berlangsung selama 11 hari mencatat kunjungan sebanyak 496.378 orang. Durasi rata-rata yang dihabiskan pengunjung di lokasi pameran mencapai sekitar lima jam.

Eko menegaskan bahwa tingginya jumlah pengunjung pameran tidak selalu berbanding lurus dengan realisasi transaksi. Pengunjung yang datang ke lokasi pameran sering kali hanya melakukan kegiatan rekreasi tanpa melakukan pembelian unit kendaraan.

"Mata rantai aktivitas pengunjung dapat berupa melihat kendaraan, mengambil brosur, atau sekadar makan bersama keluarga," kata Eko.

Fenomena kunjungan tanpa transaksi ini melahirkan istilah popular seperti 'Rojali' atau rombongan jarang beli dan 'Rohana' atau rombongan hanya nanya. Istilah tersebut merujuk pada perilaku pengunjung yang datang ke pameran tetapi membatasi pengeluaran mereka.

"Mereka jalan selfie, jalan-jalan, foto-foto, makan-makan, cari brosur tapi tidak check out ya, tidak beli mobil barunya. Itu harus dilihat lebih jauh ke situ," ujar Eko.

Masyarakat dari kelompok menengah bawah cenderung makin selektif dalam mengatur anggaran rumah tangga. Pengeluaran untuk kebutuhan mendasar tetap diprioritaskan, sementara belanja nonpokok mulai dikurangi atau ditunda.

Strategi penghematan yang dilakukan masyarakat kerap berwujud pergeseran konsumsi atau trading down. Konsumen memilih untuk mengonsumsi produk alternatif yang harganya lebih murah ketimbang menghentikan konsumsi secara total.

Eko memberikan gambaran pada kebiasaan membeli minuman kopi harian. Konsumen yang biasa membeli kopi di gerai berkonsep premium akan beralih membeli kopi di warung yang menawarkan harga lebih terjangkau.

"Biasanya ngopinya di premium ya Starbucks, Coffee Bean dan seterusnya tetap ngopi sih tapi di warung-warung kopi yang relatif lebih terjangkau," kata Eko.

Kondisi pendapatan yang cenderung stagnan di tengah ketidakpastian ekonomi menjadi pendorong utama munculnya tren penghematan ini. Pemilik tabungan berusaha menjaga batas simpanan mereka sebagai dana cadangan saat situasi ekonomi memburuk.

"Mereka masih punya tabungan punya ini tapi gak ada kenaikan income jadi yang mereka lakukan shifting. Terus kenapa shifting? Karena mereka mau mencoba untuk menghemat supaya ketidakpastian ekonomi yang masih tinggi itu bisa mereka antisipasi," ujar Eko.

Perilaku ini juga berkaitan erat dengan fenomena lipstick effect. Masyarakat menunda pembelian barang bernilai tinggi, tetapi tetap bersedia mengeluarkan dana untuk hiburan bernilai relatif kecil.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed