Pemprov Papua Pegunungan dan Jayawijaya Latih 20 OAP Olah Pangan Lokal
Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan bersama Pemerintah Kabupaten Jayawijaya mendorong penguatan kapasitas Orang Asli Papua melalui Pelatihan Pengolahan Buah Segar, Aneka Keripik, dan Kue di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan pelatihan berbasis agroindustri yang diselenggarakan oleh Balai Latihan Kerja Komunitas Shekina Wamena tersebut diikuti oleh 20 peserta dari kelompok ibu-ibu dan generasi muda binaan gereja selama tiga hari hingga Sabtu (22/8/2026).
Program ini dirancang untuk memberikan nilai tambah pada komoditas pangan lokal seperti keladi, pisang, dan hipere agar menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi serta memiliki daya simpan lebih lama saat panen raya.
Plt Staf Ahli Bupati Jayawijaya Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Natalis Mumpu, menegaskan bahwa melimpahnya hasil pertanian Jayawijaya kerap memicu penurunan harga dan risiko kerusakan komoditas segar jika tidak segera diolah.
"Melalui pelatihan ini, kita ingin mengubah buah segar yang mudah rusak menjadi produk olahan yang tahan lama, kreatif, dan bernilai ekonomi tinggi," ujar Natalis Mumpu.
Ia menambahkan bahwa keahlian teknis pengolahan komoditas hortikultura perlu dibarengi dengan pemahaman standar pengemasan modern dan strategi pemasaran agar mampu menopang perekonomian daerah.
"Kami berharap pelatihan ini dapat melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendorong pertumbuhan UMKM dan perekonomian masyarakat di Jayawijaya," kata Natalis Mumpu.
Ia juga mengingatkan para peserta agar tidak menyia-nyiakan keahlian yang telah didapatkan selama masa pelatihan berlangsung.
"Ilmu yang didapat jangan hanya disimpan, tetapi harus menjadi modal untuk membuka atau mengembangkan usaha mandiri di rumah," ujar Natalis Mumpu.
Sinergi pengembangan ekonomi kreatif ini turut didukung penuh oleh Pemprov Papua Pegunungan yang mencatat sekitar 300 pelaku ekonomi kreatif tersebar di delapan kabupaten wilayah setempat.
Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Pegunungan, Hulu Bahabol, menyampaikan apresiasi atas inisiatif pelatihan yang memadukan teori dan praktik langsung tersebut.
"Kami hadir mewakili bapak gubernur sangat terkesima dengan apa yang dilakukan oleh Yayasan Shekina Papua dalam memberikan pelatihan bagi OAP khususnya ibu-ibu dan pemuda dalam keterampilan mengolah bahan-bahan lokal menjadi produk yang bisa memiliki nilai jual di pasaran," kata Hulu Bahabol.
Guna memperkuat sektor tersebut, Pemprov Papua Pegunungan menyiapakan alokasi bantuan modal usaha dari dana otonomi khusus tahun 2026 yang mengelola anggaran kurang lebih Rp4 miliar.
"Sesuai infomarsi yang masuk dari bidang, jumlah pelaku ekonomi kreatif yang terdata hingga kini 300 di seluruh wilayah Papua Pegunungan," ujar Hulu Bahabol.
Ia memaparkan berbagai jenis usaha terus berkembang di wilayahnya, termasuk pengelolaan biji kopi lokal yang berhasil ditingkatkan nilai jualnya di pasaran.
"Mungkin dari sekian banyak jenis usaha yang dijalankan pelaku ekonomi kreatif di antaranya kopi. Masyarakat di delapan kabupaten saat ini sudah mampu mengembangkan biji kopi menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual di pasaran dengan berbahan biji kopi daerah daerah setempat," kata Hulu Bahabol.
Pemerintah provinsi berencana menyalurkan bantuan modal kepada puluhan kelompok usaha pada Agustus atau September 2026 mendatang.
"Kami menyiapkan anggarannya, kemudian Bapak Gubernur memberikan secara langsung bantuan modal usaha bagi 50 kelompok atau pelaku ekonomi kreatif delapan kabupaten," ujar Hulu Bahabol.
Mengenai besaran nominal yang diterima tiap kelompok, pihaknya masih menunggu arahan teknis lebih lanjut dari pimpinan daerah.
"Sesuai arahan dari bapak gubernur maka kami akan membantu 50 pelaku ekonomi kreatif dari delapan kabupaten untuk meningkatkan usaha yang sedang mereka kerjakan saat ini. Besaran nominalnya belum kami putuskan, tetapi jumlahnya 50 kelompok yang ada di delapan kabupaten," kata Hulu Bahabol.
Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk mendampingi para pelaku usaha lokal agar siap bersaing secara berkelanjutan.
"Sangat luar biasa yayasan ini membantu mempersiapkan generasi muda muda dan masyarakat untuk memiliki kemampuan di bidang ekonomi dalam hal ini mengelola hasil bumi menjadi produk-produk unggulan di pasaran," ujar Hulu Bahabol.
Penetapan besaran nilai dana hibah modal usaha bagi para peserta binaan masih memfinalisasi petunjuk teknis pelaksanaan.
"Kami belum menentukan besaran anggaran setiap kelompok atau pelaku ekonomi kreatif berapa besar, masih menunggu arahan dan petunjuk dari bapak gubernur. Bantuan kemungkinan akan diberikan pada bulan ini atau September 2026," kata Hulu Bahabol.
Ketua Yayasan Shekina Papua, Pdt Albert T. Yappo, menjelaskan bahwa pelatihan tiga hari ini difokuskan pada penguasaan materi praktis secara langsung agar peserta dapat mempraktikkan instruksi secara intensif.
"Peserta yang mengikuti pelatihan ini memiliki pengetahuan dan keterampilan. Setelah pelatihan selesai, kami juga berharap akan terus dilakukan pendampingan sampai kita melihat hasilnya," ujar Albert T. Yappo.
Ia menargetkan produk olahan pangan lokal binaannya kelak dapat dipasarkan sebagai cenderamata dan oleh-oleh khas daerah Jayawijaya.
"Kami berharap melalui pelatihan yang singkat ini ibu-ibu dan pemuda yang memang selama ini menjadi binaan gereja dapat mengolah hasil bumi seperti pisang, singkong, hipere menjadi produk-produk UMKM maupun ekonomi kreatif yang memiliki nilai komersial di pasaran," kata Albert T. Yappo.
Ia menilai metode pengajaran bertahap efisien untuk mempercepat pemahaman para peserta.
"Kalau pelatihan secara penuh sebenarnya membutuhkan waktu minimal 16 hari. Namun untuk tahap ini kami mengambil tiga hari dengan sistem teori dan praktik secara langsung. Jadi ketika instruktur memberikan penjelasan, peserta langsung mempraktekkannya," ujar Albert T. Yappo.
Instruktur pelatihan, Hendrik Legi, menambahkan bahwa materi pelatihan mencakup pengolahan bahan mentah, pembuatan jus dan kue, hingga teknik produksi dan pengemasan produk yang modern.
"Pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai dari hari ini sampai hari Sabtu. Materi yang diberikan adalah bagaimana mengelola bahan mentah menjadi bahan jadi. Kemudian pada hari terakhir, peserta akan belajar mengenai proses produksi dan pengemasan atau packing produk," kata Hendrik Legi.
Ia berharap pembekalan teknis ini mampu memicu munculnya lapangan kerja baru di tingkat masyarakat secara mandiri.
"Kami berharap dari kegiatan pelatihan di BLKK Sekina Wamena ini dapat mendukung terciptanya budaya ekonomi kreatif. Setelah selesai mengikuti pelatihan, para peserta diharapkan memiliki bekal dan keahlian untuk kembali mencoba mengelola usaha sendiri," ujar Hendrik Legi.
Peserta diharapkan dapat langsung menerapkan seluruh ilmu pengolahan pangan lokal yang didapatkan untuk membuka usaha di lingkungan masing-masing.
"Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi langsung melakukan praktik sehingga lebih mudah memahami materi," kata Hendrik Legi.
Rangkaian pelatihan ini diakhiri dengan evaluasi hasil produksi uji coba guna mengukur kesiapan peserta dalam mengelola usaha secara mandiri.
"Dengan keterampilan ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga," kata Hendrik Legi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow