IHSG Berpeluang Menguat Hingga Akhir 2026 di Tengah Volatilitas
Peluang penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga akhir tahun 2026 dinilai masih cukup menjanjikan meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi, seperti dikutip dari Investor Daily. Analis pasar modal, Hendra Wardana menyatakan bahwa arah pergerakan pasar saham tidak hanya ditentukan oleh kebijakan Bank Indonesia (BI). Faktor lain yang memengaruhi meliputi keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan geopolitik global, stabilitas nilai tukar rupiah, harga komoditas, serta kinerja laba emiten.
Kenaikan suku bunga BI tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar saham karena dalam kondisi tertentu dapat menjaga stabilitas makroekonomi.
Langkah tersebut mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor asing. Masuknya dana asing pada perdagangan akhir pekan lalu dapat menjadi sinyal awal membaiknya kepercayaan terhadap pasar domestik, walau masih terlalu dini untuk menyimpulkan tren pemulihan seutuhnya.
“Yang lebih penting adalah apakah arus dana asing tersebut berlangsung secara konsisten dalam beberapa pekan ke depan,” ujar Hendra. Apabila stabilitas makro dan nilai tukar rupiah bergerak stabil, serta laporan keuangan emiten semester II membaik, IHSG berpeluang bergerak menuju kisaran 6.700-6.900.
Indeks bahkan tidak menutup kemungkinan menguji level psikologis 7.000 jika aliran dana asing terus berlanjut. “Di tengah dinamika tersebut, investor disarankan tetap selektif dalam memilih sektor dan saham,” ucap Hendra. Sektor perbankan masih menjadi pilihan utama karena memiliki fundamental yang kuat, likuiditas tinggi, serta menjadi tujuan utama investasi asing saat sentimen pasar membaik.
Sektor telekomunikasi juga menarik perhatian karena memiliki pendapatan yang relatif stabil dan valuasi yang sudah cukup murah.
Sementara itu, sektor komoditas masih layak dicermati selama harga batu bara, emas, dan nikel bertahan pada level yang menguntungkan. Sektor infrastruktur turut berpotensi memperoleh sentimen positif apabila realisasi belanja pemerintah meningkat pada semester kedua. “Masuknya dana asing memang merupakan perkembangan yang menggembirakan, tetapi bukan berarti investor harus terburu-buru membeli seluruh saham,” ungkapnya.
Hendra menegaskan bahwa strategi yang lebih bijak adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental kuat dengan valuasi menarik.
Investor juga diimbau tetap memperhatikan perkembangan sentimen global yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi arah arus modal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow