Pakar Bahas Penyebab Sektor Padat Karya Makin Lesu
Pakar Bahas Penyebab Sektor Padat Karya Makin Lesu
Pekerja menyelesaikan produksi pakaian di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan, Jakarta, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
JAKARTA, investor.id -Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman melihat sektor industri padat karya menghadapi tekanan yang semakin berat. Menurutnya, pelemahan permintaan, tingginya biaya produksi, hingga derasnya tekanan barang impor menjadi sejumlah faktor yang menekan kinerja industri yang selama ini banyak menyerap tenaga kerja.
Padahal, saat ini pemerintah tengah membidik target pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Di mana angka pertumbuhan 6% ditargetkan terealisasi pada tahun 2027 mendatang.
Menurut Rizal, industri tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, serta sejumlah industri pengolahan menjadi sektor yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya.
Struktur usaha yang mengandalkan volume produksi besar dan tenaga kerja dalam jumlah banyak membuat kenaikan biaya energi, logistik, maupun bahan baku dapat dengan cepat menggerus margin usaha.
"Untuk industri padat karya, tekanan utamanya berasal dari lemahnya permintaan, tingginya biaya produksi, tekanan barang impor, mahalnya energi dan logistik, serta margin usaha yang semakin tipis," ungkap Rizal dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (25/8/2026).
Di sisi lain, lanjut Rizal, lemahnya permintaan membuat pelaku industri sulit menaikkan harga jual untuk mengimbangi kenaikan biaya. Kondisi tersebut semakin mempersempit ruang usaha dan berpotensi memengaruhi keputusan perusahaan terkait produksi maupun tenaga kerja.
Rizal pun menilai, kebijakan untuk menopang industri padat karya perlu lebih spesifik. Pemerintah dapat memberikan insentif yang dikaitkan dengan penciptaan dan pemeliharaan lapangan kerja, menyediakan pembiayaan modal kerja dengan biaya lebih murah, serta memperkuat perlindungan terhadap praktik perdagangan yang tidak adil.
Ia melanjutkan, Dukungan perluasan pasar ekspor juga menjadi penting agar industri tidak hanya bergantung pada permintaan domestik.
Kombinasi kebijakan tersebut, sektor padat karya akan memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan produksi, menjaga tenaga kerja, dan kembali meningkatkan daya saing.
"Pemerintah perlu memberikan insentif berbasis penciptaan dan pemeliharaan tenaga kerja, pembiayaan modal kerja yang lebih murah, perlindungan terhadap praktik perdagangan tidak adil, serta dukungan perluasan pasar ekspor," pungkas Rizal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow