OVO Ungkap Langkah Antisispasi Penipuan Digital Pengguna
Maraknya kasus kejahatan siber mendorong OVO mengimbau masyarakat untuk memperkuat kewaspadaan dalam bertransaksi digital di Jakarta, Selasa (1/9/2026). Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) bentukan OJK mencatat lebih dari 636 ribu laporan penipuan sejak November 2024 hingga akhir Juli 2026.
Pihak berwenang juga telah memblokir lebih dari 600 ribu rekening yang terindikasi terkait tindak penipuan digital tersebut. Menanggapi kondisi ini, Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO & Bank, Asep Haekal menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi.
Guna menekan risiko kejahatan digital, penyedia layanan terus memperkuat sistem pelindung. OVO sendiri menerapkan tiga pilar keamanan utama mencakup autentikasi pengguna, Fraud Detection System (FDS), serta teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Keamanan dan kepercayaan pengguna merupakan prioritas OVO. Kami percaya keamanan digital tidak hanya dibangun melalui teknologi, tetapi juga melalui kewaspadaan bertransaksi,” ujar Asep di Jakarta, Selasa (1/9).
Langkah proteksi dinilai tidak akan optimal tanpa adanya partisipasi aktif dari para pengguna platform pembayaran. Kesadaran masyarakat dalam menjaga akses data pribadi menjadi benteng utama dalam mencegah kerugian finansial.
“OVO secara konsisten mendorong edukasi agar pengguna semakin mampu mengenali dan menghindari berbagai modus penipuan digital,” jelas Asep.
Terdapat lima informasi dan tindakan rahasia yang tidak pernah diminta oleh pihak OVO kepada para penggunanya. Pertama, OVO tidak pernah meminta kode Personal Identification Number (PIN) yang bersifat rahasia.
Kedua, kode One-Time Password (OTP) juga tidak boleh dibagikan kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas layanan pelanggan.
“Waspadai permintaan kode OTP dengan alasan apa pun, mulai dari verifikasi akun, bantuan customer service, konfirmasi transaksi, hingga klaim hadiah atau promo,” jelas Asep.
Ketiga, pengguna diminta mengabaikan instruksi transfer uang dengan dalih verifikasi akun, upgrade layanan, maupun pencairan hadiah. Keempat, pengguna dilarang mengunduh aplikasi dari tautan tidak dikenal yang dikirim via pesan singkat atau media sosial.
“Hindari tautan mencurigakan yang dikirim melalui WhatsApp, SMS, media sosial, maupun kanal komunikasi lainnya,” kata Asep.
Kelima, seluruh permintaan bantuan harus dilakukan melalui saluran resmi untuk menghindari interaksi dengan pihak tak berwenang.
“Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko pemilik akun berinteraksi dengan pihak yang tidak berwenang atau yang mengatasnamakan OVO,” kata dia.
Layanan bantuan resmi OVO hanya dapat diakses melalui surel [email protected] atau kontak telepon 1-500-696.
“Pengguna juga diimbau untuk tetap waspada terhadap akun media sosial, nomor telepon, maupun pihak lain yang mengaku sebagai customer service OVO,” pungkas Asep Haekal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow