Mohamad Ikhsan Nilai Iklim Investasi Indonesia Terburuk

Smallest Font
Largest Font

Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Prof. Mohamad Ikhsan memberikan nilai 2 dari skala 1–10 untuk iklim investasi Indonesia saat ini dalam diskusi Suar Forum 2026 di BSD City, Tangerang, Jumat (21/8/2026). Seperti dilansir dari Investor Daily, penilaian tersebut didasarkan pada pengamatannya terhadap persoalan ekonomi lintas pemerintahan.

Ikhsan menuturkan bahwa dirinya telah terlibat dalam persoalan investasi sejak menyelesaikan pendidikan di luar negeri, mulai dari sebelum era Presiden Abdurrahman Wahid hingga periode pemerintahan berikutnya.

"Saya sudah cukup lama terlibat dalam persoalan investasi dan bekerja lintas pemerintahan. Saya bekerja lintas pemerintahan," kata Ikhsan, Ketua Dewan Guru Besar FEB UI.

Ia menjelaskan bahwa tantangan utama dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain relatif serupa, yakni mengurangi biaya berusaha, membangun kepercayaan, serta memicu keberanian investor menanamkan modal. Namun, kondisi saat ini dinilai justru mengalami kemunduran.

"Jujur saja kepada Anda semua, berdasarkan pengamatan saya, ini adalah kondisi paling buruk sepanjang observasi saya," tegas Ikhsan.

Ikhsan menyadari penilaiannya berpotensi dianggap subjektif karena ia berada di luar struktur pemerintahan saat ini. Meski demikian, ia menegaskan kesimpulannya tetap didasarkan pada observasi empiris.

"Kalau kemudian dikatakan saya bias karena tidak berada di dalam pemerintahan sekarang, oke, Anda benar. Tetapi berdasarkan observasi saya, kondisinya bahkan lebih buruk dibandingkan beberapa periode pemerintahan sebelumnya," ujar Ikhsan.

Kondisi ini dinilai ironis mengingat Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Mengutip kajian Growth Commission 2008–2009 yang melibatkan peraih Nobel Michael Spence, Indonesia termasuk satu dari 13 negara yang mampu menjaga pertumbuhan jangka panjang.

"Indonesia sangat potensial," kata Ikhsan.

Meskipun memiliki modal historis yang kuat, jurang antara potensi dan realisasi pencapaian investasi di lapangan dinilai semakin melebar.

"Potensinya ada, tetapi celah antara potensi dengan realisasinya makin besar," ujar Ikhsan.

Ia menyoroti kepercayaan serta kredibilitas sebagai faktor kunci penentu keputusan investasi jangka panjang yang saat ini mengalami kendala mendasar. Selain itu, transparansi data ekonomi juga dinilai krusial agar mampu mencerminkan realitas yang sebenarnya.

"Ada angka-angka yang ketika dilihat harus ditanyakan kembali: apakah angka tersebut benar-benar menggambarkan realitas?" kata Ikhsan.

Apabila data yang disajikan menyimpang dari kondisi riil, perdebatan publik hanya akan berkutat pada validitas angka tanpa menyelesaikan masalah substantif. Transparansi data dianggap sebagai syarat mutlak agar indikator ekonomi dapat dipercaya dan diuji.

"Supaya angka itu bisa dipercaya, transparansi adalah kuncinya," tegas Ikhsan.

Mengenai kualitas investasi, Ikhsan menekankan pentingnya menjaga persaingan yang sehat guna mendorong efisiensi dan peningkatan kualitas pelayanan bagi konsumen.

"Jika kita ingin meningkatkan kualitas investasi, kita harus bersaing," ujar Ikhsan.

Penyempitan ruang kompetisi berisiko merugikan konsumen karena berkurangnya pilihan serta melemahnya dorongan efisiensi bagi pelaku usaha.

"Kalau kita ingin meningkatkan kualitas investasi, kompetisi tidak boleh dikurangi," tegas Ikhsan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed