Membandingkan Kebakaran Hutan di Eropa dan Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Prof Dr Sudarsono Soedomo *) 25 Jul 2026 | 19:22 WIB

Guru Besar Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan IPB University Prof. Dr. Sudarsono Soedomo. (Foto: dok. Pribadi)

Konon, api itu netral. Ia tidak memilih membakar rumah orang kaya atau orang miskin, hutan pinus atau hutan akasia, semak belukar atau pohon ek. Api hanya mengikuti hukum fisika. Tetapi setelah api padam, hukum yang bekerja berubah. Di situlah mulai muncul perbedaan yang menarik antara Eropa dan Indonesia.

Tahun ini Eropa sedang mengalami musim kebakaran hutan yang luar biasa. Spanyol, Portugal, Prancis, Yunani, hingga Italia bergantian menjadi berita utama. Luas kebakaran sepanjang 2026 telah mencapai ratusan ribu hektar. Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada rumah yang hilang, satwa yang mati, petani yang kehilangan penghidupan, dan pemerintah yang menguras anggaran untuk memadamkan api serta memulihkan hutan.

Begitu api padam, pikiran mereka sederhana: bagaimana menanam kembali pohon, memperbaiki ekosistem, dan mencegah kebakaran berikutnya. Tidak terdengar pemerintah berkata, "Alhamdulillah, sekarang kita dapat menghitung kerugian lingkungan."

Di Indonesia, urutannya sering terasa berbeda. Setelah petugas pemadam pulang, giliran kalkulator bekerja. Hutan yang terbakar bukan hanya meninggalkan abu, melainkan juga peluang menghitung "kerugian lingkungan". Rumus-rumus mulai dibuka, tabel-tabel dikeluarkan, angka-angka berderet rapi hingga akhirnya muncul nilai yang kadang membuat orang mengucek mata.

Bayangkan saja. Bila metode perhitungan yang selama ini digunakan diterapkan pada kebakaran seluas sekitar 254 ribu hektar, nilai kerugian lingkungan secara teoritis dapat mencapai ratusan triliun rupiah. Angka sebesar itu bahkan dapat menyaingi anggaran kementerian besar. Yang lebih menggelitik, uang hasil gugatan semacam ini kemudian dikategorikan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak.

Di titik inilah logika mulai meminta izin keluar ruangan. Biasanya penerimaan negara berasal dari kegiatan ekonomi yang sehat: pajak dibayar karena perusahaan untung, royalti muncul karena sumber daya dimanfaatkan secara produktif, atau dividen berasal dari perusahaan negara yang menghasilkan laba. Semua itu lahir karena nilai tambah diciptakan.

Tetapi jika kerugian lingkungan mulai dipandang sebagai salah satu sumber penerimaan negara, insentif kebijakan menjadi menarik untuk diamati. Semakin besar nilai kerugian yang dihitung, semakin besar pula potensi penerimaan. Ekonom menyebut gejala seperti ini sebagai perverse incentive—insentif yang mendorong arah kebijakan menjauh dari tujuan semula.

Tujuan perlindungan lingkungan seharusnya memulihkan alam. Namun ketika angka kerugian menjadi semakin spektakuler, perhatian perlahan dapat bergeser. Yang semula sibuk menanam pohon berubah sibuk menghitung nilai pohon yang sudah menjadi abu.

Ironisnya, sebagian besar masyarakat tidak pernah membaca bagaimana angka kerugian lingkungan itu sebenarnya dihitung. Angka tersebut sering tampil dengan wibawa ilmiah: penuh persamaan, koefisien, dan satuan. Padahal, sebagaimana telah lama diperdebatkan oleh banyak akademisi, sebagian metode tersebut mengandung asumsi yang lemah, berpotensi menghitung manfaat yang sama lebih dari sekali, bahkan sulit diverifikasi secara empiris. Rumus yang tampak ilmiah belum tentu menghasilkan ilmu yang baik.

Akibatnya dapat sangat serius. Sebuah perusahaan yang aset riilnya hanya bernilai beberapa triliun rupiah mendadak menghadapi gugatan puluhan triliun. Tidak ada bank yang mampu menyelamatkan. Tidak ada investor yang bersedia masuk. Perusahaan mati bukan karena pasar menolaknya, melainkan karena angka di atas kertas tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan ekonomi siapa pun untuk membayarnya.

Lingkungan memang harus dilindungi. Tidak ada perdebatan mengenai itu. Pelaku pembakaran yang terbukti bersalah harus dihukum. Tetapi menghukum berbeda dengan menciptakan angka yang mustahil dibayar. Keadilan tidak identik dengan spektakularitas.

Apalagi ketika kondisi fiskal negara sedang ketat. Godaan untuk mencari sumber penerimaan baru tentu semakin besar. Dalam keadaan seperti itu, publik berhak berharap agar perlindungan lingkungan tidak berubah menjadi instrumen fiskal terselubung. Sebab jika itu terjadi, kementerian yang semestinya menjadi penjaga ekosistem perlahan berubah menjadi pemburu tagihan terbesar di republik ini.

Bayangkan sebuah rapat anggaran. "Kita defisit." "Naikkan pajak?" "Berisiko." "Utang lagi?" "Pasar sedang sensitif." "Lalu?" "Musim kemarau sudah datang." Semua terdiam. Tidak ada yang berani melanjutkan kalimat itu. Karena kalau sampai ada yang menyambung, satir akan berubah menjadi kenyataan.

Negara yang sehat memperoleh penerimaan dari rakyat yang semakin produktif, bukan dari rakyat yang semakin bangkrut. Lingkungan yang sehat dipulihkan dengan restorasi, bukan dengan perlombaan menciptakan angka kerugian yang fantastis. Dan ilmu pengetahuan yang sehat seharusnya menjadi rem bagi kesewenang-wenangan, bukan sekadar stempel agar sebuah angka tampak sah.

Mudah-mudahan Indonesia tidak pernah sampai pada keadaan ketika asap kebakaran bukan lagi dilihat sebagai bencana yang harus dicegah, melainkan sebagai awal dari musim panen penerimaan negara. Sebab jika hari itu tiba, yang benar-benar terbakar bukan hanya hutannya, tetapi juga akal sehat kita.

*) Guru Besar Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

InveStory 3 menit yang lalu Ketika Api Menjadi Penerimaan Negara Mengulas kerugian lingkungan kebakaran hutan yang jadi Penerimaan Negara Bukan Pajak. Simak opini lengkapnya di sini!

Lifestyle 11 menit yang lalu Besok, BTV Semesta Berpesta Dimeriahkan The Changcuters hingga Smart Run Tiket Rp 1 BTV Semesta Berpesta Bekasi ludes terjual! Disertai Smart Run hingga aksi The Changcuters. Cek jadwal penukarannya di sini!

Market 20 menit yang lalu Ahli Bongkar Nasib Harga Emas yang Terus Bertahan di US$ 4.000 Meski tak kunjung naik tinggi, sejumlah analis melihat harga emas masih memiliki prospek bullish di pasar.

International 48 menit yang lalu Menteri India Mundur Usai Letusan Protes Gerakan Pelajar Menteri Pendidikan India mengundurkan diri usai gelombang protes 'Kecoak' akibat kebocoran soal ujian. Simak berita lengkapnya di sini!

Business 53 menit yang lalu Tempo Scan-SBP Group Perluas Akses Obat Inovatif Perusahaan patungan Tempo Scan-SBP akan menggabungkan inovasi farmasi global dengan jaringan produksi dan distribusi nasional.

International 1 jam yang lalu Saudi Tangkal Rudal yang Incar Kilang Minyak Dua rudal dari Yaman yang incar kilang minyak Arab Saudi berhasil ditembak jatuh. Ketegangan Timur Tengah kian memuncak! Cek detailnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed