Menteri Kehutanan Sebut Karhutla Hampir Pasti Akibat Pembakaran

Smallest Font
Largest Font

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa daerah hampir pasti disebabkan oleh pembakaran yang dilakukan masyarakat atau korporasi untuk berbagai keperluan, termasuk pembukaan lahan.

Menurut Raja Juli Antoni, tren titik panas (hotspot) karhutla di sejumlah wilayah menunjukkan penurunan hingga 31 Agustus 2026, sebagai hasil dari upaya pemadaman dan perubahan perilaku masyarakat serta korporasi yang menghentikan pembakaran lahan.

Berdasarkan laporan hingga 31 Agustus 2026, hotspot di Riau dan Jambi telah mencapai nol, sementara Sumatera Selatan masih mencatat 20 hotspot, turun dari 39 titik sehari sebelumnya.

Menteri Kehutanan menjelaskan bahwa munculnya asap di Sumatera Selatan tidak selalu menandakan api masih menyala karena karakter tanah gambut di wilayah tersebut, dan saat ini dilakukan pendinginan intensif.

Di wilayah Kalimantan, jumlah hotspot hingga 31 Agustus 2026 adalah 22 titik di Kalimantan Selatan, naik dari 18 titik sehari sebelumnya. Kalimantan Barat mencatat penurunan dari 455 menjadi 272 titik, dan Kalimantan Tengah turun dari 308 menjadi 253 titik.

Raja Juli Antoni menilai penurunan hotspot ini merupakan hasil kombinasi dari berbagai faktor, termasuk pemadaman di lapangan dan berkurangnya aktivitas pembakaran lahan oleh perusahaan dan masyarakat.

"Jadi kalau angkanya menurun hari ini, ini kombinasi dari semua faktor. Tapi ucapan terima kasih saya kepada masyarakat Indonesia yang paling tidak pada data hari ini, karena perjuangan memadamkan di bawah atau juga perilaku masyarakat yang berhenti paling tidak melakukan pembakaran lahan untuk melakukan land clearing, melakukan pembakaran untuk melakukan proses perkebunan atau berladang, baik itu perusahaan besar maupun masyarakat biasa," ujar Raja Juli Antoni.

Meski tren hotspot menurun, Menteri Kehutanan mengingatkan kewaspadaan harus ditingkatkan terutama karena bulan September merupakan puncak El Nino, yang berpotensi menjadi periode penting dalam penanganan karhutla.

"Harus sangat waspada karena September bagi saya adalah ladang perjuangan sesungguhnya. Pertarungan kita di bulan September," kata Raja Juli Antoni.

Dia menegaskan penurunan hotspot harus dipertahankan terutama menjelang puncak El Nino.

"September adalah puncak El Nino. Alhamdulillah sekali lagi trennya menurun, harus kita pertahankan, tetapi waspada," ujar Menteri Kehutanan.

Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan karhutla, termasuk operasi modifikasi cuaca, water bombing, dan pengerahan personel di darat untuk menekan angka karhutla serendah mungkin serta meminimalisir dampak bagi masyarakat terdampak.

"Pemerintah ingin memastikan angka karhutla ditekan serendah-rendahnya. Masyarakat yang terdampak oleh karhutla ini juga diminimalisir," pungkas Raja Juli Antoni, dilansir dari Investor Daily.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed