Lapas di Indonesia Panen Hasil Pertanian dan Perikanan
Sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia mengoptimalkan lahan area hunian untuk memanen berbagai komoditas pertanian dan perikanan pada akhir Agustus hingga awal September 2026. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.
Lapas Kelas IIB Bondowoso memanen 16 kilogram terong dari area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) pada 31 Agustus 2026. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kalapas Bondowoso Nunus Ananto bersama jajaran pejabat struktural. Program pertanian ini menjadi media pembelajaran bagi warga binaan dari tahap penanaman hingga pemanenan.
Kalapas Bondowoso menegaskan pentingnya pembinaan kemandirian tersebut bagi masa depan para warga binaan.
"Kami ingin setiap kegiatan pembinaan memiliki manfaat yang dapat dibawa pulang oleh warga binaan. Keterampilan bertani ini diharapkan dapat menjadi modal bagi mereka untuk hidup mandiri dan produktif setelah kembali ke keluarga dan masyarakat," ungkap Nunus Ananto, Kalapas Bondowoso.
Di tempat terpisah, Lapas Kelas III Batulicin memanen 51 kilogram ikan lele pada 31 Agustus 2026 setelah masa pemeliharaan selama 2,5 bulan. Seluruh hasil panen dipasarkan untuk mendukung perputaran pakan serta operasional perikanan. Petugas Lapas Batulicin Muhammad Subhan Abdi menilai program ini berjalan terarah.
"Panen lele ini menunjukkan bahwa pembinaan kemandirian dapat berjalan melalui proses yang terarah dan konsisten. Warga Binaan tidak hanya belajar memelihara ikan, tetapi juga memahami bahwa keberhasilan budidaya membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, dan tanggung jawab dari awal hingga panen," ujar Muhammad Subhan Abdi, Petugas Lapas Batulicin.
Salah seorang warga binaan yang terlibat merasa mendapatkan bekal keterampilan berharga dari program ini.
"Selama ikut mengelola lele, saya mendapatkan banyak pengalaman tentang cara merawat dan menjaga ikan sampai bisa dipanen. Kalau nanti sudah bebas, saya punya niat untuk mengembangkan bidang perikanan ini menjadi usaha karena ilmu yang saya dapat di sini bisa menjadi bekal," ungkap M, Warga Binaan Lapas Batulicin.
Kepala Lapas Batulicin Thoha Yahya Umar Sidiq menyatakan dukungan penuhnya terhadap aktivitas produktif tersebut.
"Kami mendukung setiap langkah pembinaan kemandirian yang memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk belajar, bekerja, dan menghasilkan. Kami berharap tanggung jawab yang dibangun melalui kegiatan seperti budidaya lele dapat menjadi bekal positif sekaligus memberikan energi yang baik bagi keberlangsungan program pembinaan di Lapas Batulicin," tegas Thoha Yahya Umar Sidiq, Kepala Lapas Batulicin.
Selain perikanan, Lapas Batulicin juga memanfaatkan lahan terbatas untuk memanen 50 kilogram kangkung pada Selasa, 1 September 2026. Tanaman kangkung dipanen pada usia 23 hari meski dirawat di tengah musim kemarau dengan ketersediaan air terbatas. Hasil panen kangkung didistribusikan langsung ke Dapur Sehat Lapas Batulicin untuk konsumsi internal warga binaan.
Thoha Yahya Umar Sidiq menjelaskan bahwa pemanfaatan hasil panen untuk kebutuhan internal memberikan nilai tambah pada program pembinaan.
"Ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang mengajarkan warga binaan untuk mengelola tanaman secara konsisten hingga masa panen, Ketika hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pangan di lapas, kegiatan ini memiliki nilai pembinaan sekaligus manfaat yang nyata," kata Thoha Yahya Umar Sidiq, Kepala Lapas Batulicin.
Seorang warga binaan yang merawat kebun kangkung menyampaikan proses belajar yang ia dapatkan selama keterbatasan air.
"Walaupun air terbatas karena kondisi kemarau, kami tetap berusaha merawat tanaman agar bisa tumbuh sampai panen. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa hasil membutuhkan kesabaran, keyakinan, dan tanggung jawab untuk menjalankan tugas sampai selesai," ungkap H, Warga Binaan Lapas Batulicin.
Sementara itu, Lapas Kelas III Wahai memanen 13 ikat sawi segar bersama para peserta magang pada Selasa, 1 September 2026. Seluruh hasil sayuran diserahkan ke bagian dapur lapas guna diolah menjadi makanan bernutrisi bagi warga binaan.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai menjelaskan manfaat langsung hasil kebun tersebut bagi pemenuhan bahan pangan.
"Hari ini kami berhasil memanen 13 ikat sawi dari kebun sendiri. Seluruh hasil panen ini langsung kami serahkan ke bagian dapur untuk diolah menjadi makanan bernutrisi bagi para Warga Binaan. Hal ini sangat membantu dalam menunjang kebutuhan bahan pangan di Lapas," jelas La Joi, Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai.
Keterlibatan peserta magang dalam panen ini mendapat apresiasi positif dari salah satu peserta.
"Ini pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Bisa melihat langsung dan ikut memanen sawi bersama membuktikan program pembinaan kemandirian di Lapas Wahai benar-benar berjalan produktif. Sayurannya juga sangat segar," puji Harrisa, Peserta Magang di Lapas Wahai.
Pelaksana Harian Kepala Lapas Wahai mengapresiasi kerja sama seluruh jajaran dalam mengelola lahan secara maksimal.
"Panen ini menunjukkan lahan yang ada mampu dikelola secara maksimal untuk mendukung ketahanan pangan internal Lapas. Kami mengapresiasi kinerja bagian pembinaan dan partisipasi aktif dari para peserta magang yang ikut bergotong royong menyukseskan kegiatan hari ini," puji Usman Bakri, Pelaksana Harian Kepala Lapas Wahai.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow