Laba VKTR Semester I-2026 Tumbuh, Mayoritas Mengalir ke Pihak Non-Pengendali

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Muawwan Daelami 2 Aug 2026 | 20:00 WIB

Penandatanganan perjanjian fasilitas kredit oleh Direktur Utama & CEO VKTR Gilarsi W. Setijono, Executive VP Group Corporate Banking BCA, Raymond Tanuwibowo, dan VP Corporate Branch BCA Liliani Kurniawan di Jakarta, Senin (14/8/2023).

JAKARTA, investor.id – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), emiten bus listrik Grup Bakrie, di atas kertas memang menorehkan pertumbuhan dari segi total laba bersih sepanjang semester I-2026. Namun jika ditelaah lebih jauh, laba tersebut mayoritas mengalir ke pihak non-pengendali bukan ke pemilik entitas induk.

Kejadian ini menarik untuk diidentifikasi musababnya. Patut diduga, larinya mayoritas laba VKTR tersebut karena dipengaruhi oleh struktur kepemilikan saham perseroan terhadap entitas-entitas anaknya yang boleh jadi berperan sebagai mesin atau sumber pendapatan utama bisnis perusahaan.

Mengutip laporan keuangan konsolidasian VKTR yang berakhir 30 Juni 2026, terdapat tiga entitas anak di mana VKTR bukan bertindak sebagai pemilik saham penuh. Ketiganya meliputi PT VKTR Sakti Industries (VSI) yang bergerak di sektor perakitan kendaraan bermotor, kemudian PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI) yang menjalankan bisnis perdagangan besar dan penyewaan kendaraan bermotor, dan PT Braja Mukti Cakra (BMC) yang berkegiatan di bisnis industri suku cadang dan aksesoris kendaraan.

Di VSI, perseroan menggenggam sebanyak 60% saham. Sementara di SEI, per 31 Desember 2025 perseroan masih memiliki 51% saham namun kemudian meningkat menjadi 99,99% saham per 30 Juni 2026. Adapun di BMC, perseroan memilikinya secara tidak langsung melalui anak usaha, PT Bakrie Autoparts (BA), dengan porsi sebesar 50% saham hingga 30 Juni 2026.

Artinya, meski di dua entitas (VSI dan SEI) struktur kepemilikan VKTR menjadi pemegang mayoritas, porsi kepentingan nonpengendali (non-controlling interest/NCI) tetap signifikan terutama di VSI mencapai 40%. Bahkan di BMC, kepemilikan NCI setara dengan VKTR sebesar 50% sehingga separuh labanya otomatis menjadi hak NCI dan bukan masuk kantong VKTR selaku entitas induk.

Tengok saja, VKTR membukukan total laba bersih sebesar Rp10 miliar sepanjang periode Januari-Juni 2026 yang terdiri dari Rp1,12 miliar diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan Rp8,95 miliar lainnya atau setara nyaris 90% dari laba bersih perseroan diatribusikan kepada kepentingan non-pengendali.

Pertumbuhan laba bersih VKTR tersebut segendang sepenarian dengan naiknya penjualan bersih perseroan dari Rp414 miliar, menjadi Rp646 miliar pada enam bulan pertama tahun buku 2026. Kontribusinya ditopang dari penjualan komponen suku cadang dan besi bekas kepada pihak ketiga sebesar Rp533 miliar, lebih tinggi dari Rp410 miliar per 30 Juni 2025.

Dan sumbangsih dari penjualan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai kepada pihak ketiga sebesar Rp114 miliar, naik signifikan dibanding Rp6,11 miliar pada semester I-2025. Pihak ketiga yang menjadi mitra penjualan VKTR yaitu PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, Perum Damri, dan PT Hino Motors Manufacturing Indonesia.

Meningkatnya penjualan VKTR membuat beban pokok ikut naik dari Rp334 miliar, menjadi Rp534 miliar pada semester I-2026. Alhasil, laba kotor perseroan meningkat tajam dari Rp80 miliar pada enam bulan pertama 2025 menjadi Rp112 miliar pada enam bulan pertama 2026 dengan laba usaha sebesar Rp16 miliar ketimbang sebelumnya Rp807 juta.

Dari segi neraca keuangan, total ekuitas VKTR mengalami penguatan menjadi Rp1,25 triliun dari Rp1,24 triliun per 30 Juni 2025. Diikuti peningkatan liabilitas dari Rp553 miliar, menjadi Rp588 miliar per 30 Juni 2026 yang berasal dari liabilitas jangka pendek sebesar Rp357 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp231 miliar.

Total aset VKTR menguat dari Rp1,79 triliun, menjadi Rp1,84 triliun per 30 Juni 2026. Begitu pula, dengan kas dan setara kas perusahaan pada akhir periode yang tumbuh menjadi Rp38,28 miliar per 30 Juni 2026 dibandingkan Rp26,24 miliar per 30 Juni 2024.

Editor: Muawwan Daelami

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Laba Loncat, Bumi Resources (BUMI) Jaga Target 2026

Ada Ruang Penguatan Saham BUMI

Emiten Grup Bakrie Gelontorkan Duit Triliunan

Emiten Grup Bakrie Ini Masih Rugi

Nasib Laporan Keuangan Darma Henwa (DEWA)

Macroeconomy 4 menit yang lalu Bantuan Beras Disalurkan Serentak pada 17 Agustus, Mulai Andalkan Kopdes Pemerintah mulai menyalurkan bantuan pangan beras kepada 33,24 juta penerima secara serentak pada 17 Agustus 2026.

Market 6 menit yang lalu Laba VKTR Grup Bakrie Mayoritas Mengalir ke Non-Pengendali, Kenapa? PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) memang di atas kertas menorehkan pertumbuhan laba. Tapi mayoritas bukan mengalir ke induk tapi ke NCI

Business 8 menit yang lalu Sean Gelael Meriahkan GIIAS 2026, Berbagi Pengalaman di Booth MyPertamina Pembalap nasional Sean Gelael memeriahkan booth MyPertamina di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.

Macroeconomy 40 menit yang lalu Komisi X Minta Anggaran Pendidikan tanpa MBG Langsung Diterapkan dalam APBN 2027 Komisi X DPR meminta APBN 2027 mengembalikan dana pendidikan untuk kebutuhan inti, termasuk kesejahteraan guru, sesuai putusan MK.

Business 56 menit yang lalu Berkenalan dengan SUV PHEV Petualang Jetour Jetour menghadirkan T2 i-DM, adventure PHEV SUV yang mendefinisikan standar baru kendaraan petualang.

Market 1 jam yang lalu Minat SUN Tetap Tinggi, Premi Yield Jadi Sorotan Rasio utang pemerintah masih aman, namun kenaikan yield obligasi berpotensi mempersempit ruang fiskal APBN.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed