Laba Bersih BBRI Melonjak 17,5 Persen pada Semester I 2026
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 17,5 persen secara tahunan menjadi Rp31,2 triliun pada semester I-2026. Pertumbuhan kinerja keuangan ini didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih yang tumbuh 9,9 persen hingga mencapai Rp80,5 triliun.
Hasil riset Phintraco Sekuritas mencatat bahwa ekspansi penyaluran kredit BBRI melaju hingga 15,9 persen secara tahunan menjadi Rp1.641,6 triliun. Selain itu, porsi dana murah atau CASA mengalami peningkatan sebesar 10,1 persen menjadi Rp1.069 triliun, yang berfungsi memperkuat struktur pendanaan berbiaya rendah.
Bila dilihat secara kuartalan, pendapatan bunga perseroan pada kuartal II-2026 tumbuh 4,3 persen menjadi Rp55,1 triliun. Namun, beban bunga mengalami lonjakan signifikan sebesar 16 persen menjadi Rp14,7 triliun, yang memicu penurunan tipis pada laba bersih sebesar 0,5 persen menjadi Rp15,5 triliun.
Dikutip dari Investor Daily, Margin Bunga Bersih (NIM) BBRI mengalami penurunan sebesar 20 basis poin menjadi 6,4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 6,6 persen. Kondisi tersebut dipicu oleh laju kenaikan biaya dana yang lebih cepat ketimbang imbal hasil aset produktif.
Meski NIM menyusut, Return on Equity (ROE) BBRI justru menguat dari 16,95 persen menjadi 18,5 persen. Hal ini mencerminkan efisiensi penggunaan modal perusahaan yang membaik seiring dengan pencapaian laba bersih.
Tingkat kualitas kredit perseroan turut menunjukkan perbaikan yang ditandai dengan penurunan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 10 basis poin dari 3 persen menjadi 2,9 persen. Di sisi lain, Loan to Deposit Ratio (LDR) merangkak naik dari 85,5 persen menjadi 90,8 persen akibat laju pertumbuhan kredit yang melampaui himpunan DPK.
"Kualitas kredit menunjukkan perbaikan dengan NPL turun 10 bps menjadi 2,9% vs 3%. LDR naik menjadi 90,8% vs 85,5%, seiring ekspansi kredit yang melampaui pertumbuhan DPK," tulis Phintraco.
Melalui momentum ekspansi yang lebih kuat dari proyeksi awal, manajemen merombak panduan pertumbuhan kredit tahun 2026 dari kisaran 7–9 persen menjadi 8–10 persen. Sementara itu, panduan NIM dipertahankan pada kisaran 7,4–7,8 persen dengan credit cost di rentang 2,9–3,2 persen.
"Dengan momentum kredit yang tetap solid dan kualitas aset yang mulai membaik, BBRI memiliki ruang untuk mencatatkan pemulihan laba bersih, terutama apabila tren pertumbuhan kredit dan normalisasi biaya kredit terus berlanjut," tulis Phintraco.
Atas capaian tersebut, Phintraco Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBRI dengan target harga wajar sebesar Rp4.280, yang mengindikasikan potensi kenaikan hingga 31 persen. Proyeksi nilai wajar ini disusun menggunakan kalkulasi dividend discount model dan valuasi relatif, dengan rasio Price to Book Value (PBV) saat ini berada di level 1,44 kali.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow