KTT SCO Bishkek Pererat Kerja Sama Anggota di Tengah Tekanan Barat
Pemimpin Tiongkok, Rusia, India, dan Iran menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai di Bishkek, Kirgizstan, pada September 2026. Pertemuan ini memperkuat koordinasi ekonomi dan geopolitik regional di tengah meningkatnya ketegangan global. KTT SCO menjadi wadah penting bagi para anggota untuk menyelaraskan strategi diplomasi serta menghadapi berbagai sanksi dan tekanan ekonomi dari negara-negara Barat. Presiden Tiongkok Xi Jinping menggelar kunjungan kenegaraan ke Kirgizstan dan melakukan pembicaraan bilateral dengan Presiden Sadyr Japarov guna memperluas proyek jaringan kereta api Tiongkok-Kirgizstan-Uzbekistan serta meningkatkan kemitraan strategis.
"Sejumlah proyek kerja sama penting antara Tiongkok dan Kirgizstan, termasuk jalur kereta api tersebut, terus mengalami kemajuan dalam beberapa tahun terakhir," kata Xi Jinping, Presiden Tiongkok.
Ia menambahkan bahwa proyek-proyek tersebut memberikan dukungan nyata bagi pembangunan kedua negara, membawa manfaat bagi masyarakat, serta turut mendorong perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan. "Tiongkok siap bekerja sama dengan Kirgizstan untuk menyelaraskan strategi pembangunan kedua negara, memperluas pertukaran pengalaman di bidang tata kelola pemerintah, menghadirkan manfaat kerja sama yang lebih nyata dan mudah dirasakan masyarakat, serta mendorong kemajuan nyata dalam membangun komunitas Tiongkok-Kirgizstan yang memiliki masa depan bersama," ujar Xi Jinping, Presiden Tiongkok.
Pemerintah Tiongkok juga menegaskan komitmennya dalam mendukung peran diplomasi Kirgizstan di panggung internasional. "Tiongkok mendukung Kirgizstan untuk memainkan peran yang lebih besar dalam urusan internasional dan regional," kata Xi Jinping, Presiden Tiongkok.
"Tiongkok siap bekerja sama dengan Kirgizstan untuk menentang hegemoni dan politik kekuasaan, menjunjung multilateralisme yang sejati, menjaga prinsip keadilan dan kesetaraan internasional, serta mendorong terbentuknya sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara," tutur Xi Jinping, Presiden Tiongkok. Presiden Kirgizstan Sadyr Japarov mengapresiasi dukungan tersebut dan menilai kerja sama kedua negara kini berada pada fase paling produktif. "Hubungan bilateral telah memasuki periode 'emas' dan berada pada tingkat tertinggi sepanjang sejarah," kata Sadyr Japarov, Presiden Kirgizstan.
Ia juga menegaskan pentingnya inisiatif global Tiongkok dalam menghadapi iklim geopolitik saat ini.
"Empat inisiatif global Tiongkok di bidang pembangunan, keamanan, peradaban, dan tata kelola membantu negara-negara bekerja sama menghadapi tantangan bersama serta membangun tatanan internasional yang lebih adil dan stabil," kata Sadyr Japarov, Presiden Kirgizstan. Di sela-sela KTT, dinamika hubungan antara India, Rusia, dan Amerika Serikat juga menjadi sorotan utama, khususnya terkait pasokan energi dan persenjataan. "India memiliki hubungan strategis jangka panjang dengan Rusia. Hubungan ini tidak ditujukan untuk melawan negara mana pun, melainkan untuk membantu India mencapai kepentingan nasionalnya," kata Meera Shankar, Mantan Duta Besar India untuk AS.
Mantan diplomat tersebut menambahkan penilaiannya mengenai langkah penyesuaian pasokan energi India saat ini.
"Dalam jangka panjang, transisi menuju ekonomi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil akan memperkuat kemandirian energi India. Namun, hal ini tidak akan terjadi dalam waktu singkat," kata Meera Shankar, Mantan Duta Besar India untuk AS. Sektor pertahanan India juga mulai mengalami pergeseran prioritas dalam ketergantungannya pada perlengkapan militer asal Rusia.
"India tetap menjadi salah satu pembeli senjata Rusia yang tertua dan terbesar, bahkan mungkin pembeli besar terakhirnya," kata Aravind Yelery, Profesor Madya di Jawaharlal Nehru University. Ia memberikan rincian lebih lanjut mengenai perubahan kebijakan pengadaan militer New Delhi.
"New Delhi semakin enggan berkomitmen pada program jet tempur generasi kelima Rusia dan tidak terlalu berminat membeli peralatan militer Rusia yang baru, kecuali jika dapat dimasukkan ke dalam rencana produksi dalam negeri India," kata Aravind Yelery, Profesor Madya di Jawaharlal Nehru University. Pakar geopolitik tersebut menggarisbawahi perbedaan mendasar dalam hubungan bilateral Moskow dengan Beijing dan New Delhi. "Secara strategis, hubungan Rusia dengan Cina pada dasarnya tetap bersifat transaksional, sebuah ketergantungan yang tidak mampu dikorbankan Rusia. Sementara itu, hubungan Rusia dengan India didasarkan pada kemitraan," kata Aravind Yelery, Profesor Madya di Jawaharlal Nehru University.
Pergeseran strategi luar negeri India turut dianalisis oleh para pengamat geopolitik internasional.
"Rusia tidak lagi berada dalam posisi untuk membantu India mengimbangi Cina," kata C Raja Mohan, Profesor Studi Amerika di Jindal Global University. Ia menjelaskan pendekatan diplomasi fleksibel yang kini diterapkan oleh pemerintah India. "India berusaha mengurangi risiko jika kebijakan Amerika berubah-ubah, tetapi tetap menyadari bahwa Washington adalah mitra terpentingnya," kata C Raja Mohan, Profesor Studi Amerika di Jindal Global University.
Di sisi lain, Rusia berusaha memastikan dukungan mitra utamanya di Asia tetap solid di tengah iklim sanksi ekonomi Barat.
"Presiden Putin membutuhkan jaminan dari Perdana Menteri Modi bahwa India tidak akan meninggalkan Rusia ketika negara itu menghadapi krisis terburuknya sejak dekade 1990-an," kata Rajan Kumar, Profesor Studi Rusia di Jawaharlal Nehru University. Ia menambahkan proyeksi mengenai hasil pertemuan bilateral kedua negara tersebut.
"Menurut saya, pertemuan ini lebih membahas kelanjutan hubungan yang sudah ada di tengah tekanan AS," kata Rajan Kumar, Profesor Studi Rusia di Jawaharlal Nehru University. Selain pertemuan dengan India, Presiden Rusia Vladimir Putin juga melangsungkan agenda bilateral dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk memperkuat hubungan ekonomi serta perdagangan antar kedua negara.
Sementara itu, analisis dari lembaga Teneo dan Chinese Academy of Social Sciences menunjukkan bahwa agenda diplomatik intensif para pemimpin dalam KTT SCO ini juga menjadi ajang penentuan stabilitas rantai pasok global dan keamanan energi kawasan. "Xi sangat membatasi perjalanan ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir, sehingga jadwal perjalanannya yang padat dalam waktu dekat menjadi indikator penting mengenai prioritasnya," kata Gabriel Wildau, Direktur Pelaksana Teneo. Pihak Tiongkok menyatakan kesiapannya untuk mengambil peran lebih besar dalam penyelesaian masalah internasional.
"Mungkin sudah saatnya bagi China untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar dan menyediakan lebih banyak barang publik global," kata Hai Zhao, Direktur Studi Politik Internasional Chinese Academy of Social Sciences.
Ia menambahkan penjelasannya terkait keterikatan ekonomi Tiongkok dalam dinamika global. "Karena integrasi China yang mendalam dalam ekonomi global, China merupakan bagian tak terpisahkan dari solusi," kata Hai Zhao, Direktur Studi Politik Internasional Chinese Academy of Social Sciences. Pengamat dari CSIS mencermati kelanjutan dari diplomasi multilateral ini terhadap hubungan antar-negara besar.
"Kehangatan yang terlihat antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Rusia Vladimir Putin dapat memengaruhi pertimbangan Trump terkait penggunaan tarif sekunder," kata Richard M. Rossow, Analis CSIS.
Analis tersebut mengomentari perkembangan stabilitas di area perbatasan Asia. "Senang melihat ketegangan antara India dan China terbatas pada masalah perdagangan dan visa!" kata Richard M. Rossow, Analis CSIS.
Rangkaian pertemuan dalam KTT SCO Bishkek ini dijadwalkan berlanjut dengan sejumlah agenda KTT BRICS di New Delhi serta dialog tingkat tinggi di Washington pada akhir September 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow