Putin Temui Xi Jinping dan Modi di Bishkek Bahas AI Hingga Energi
Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar pertemuan bilateral terpisah dengan Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgistan, pada Selasa (1/9/2026). Pertemuan puncak kawasan Asia Tengah tersebut dimanfaatkan Moskow untuk memperkuat kemitraan strategis, mulai dari kerja sama teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan Beijing hingga pengamanan pasokan energi bersama New Delhi di tengah sanksi Barat dan gejolak geopolitik global. Dalam pembicaraan dengan Presiden Xi Jinping, Rusia secara khusus mendorong ekspansi kerja sama di bidang inovasi digital dan teknologi kecerdasan buatan guna menopang pertumbuhan ekonomi kedua negara.
"Kerja sama berkembang dengan sukses di berbagai bidang," ujar Putin kepada Xi menjelang pembicaraan mereka, dilansir dari AFP.
Langkah penguatan teknologi ini berlangsung beriringan dengan kebijakan domestik Kremlin yang memperketat kendali ranah daring, termasuk mendorong penggunaan aplikasi pesan Max buatan pemerintah yang tidak memiliki enkripsi. "Inovasi digital, termasuk teknologi kecerdasan buatan, juga membuka peluang baru bagi pembangunan ekonomi negara kita," kata Putin.
Sementara itu, agenda diplomasi Putin dengan PM Narendra Modi berfokus pada dinamika perdagangan energi dan pertahanan yang terimbas konflik di Ukraina serta ketegangan di Timur Tengah. India yang menghadapi tekanan sanksi Amerika Serikat tetap berupaya mengamankan pasokan minyak Rusia berharga diskon demi kepentingan nasionalnya. Mantan Duta Besar India untuk AS, Meera Shankar, memberikan pandangannya terkait arah hubungan diplomatik kedua negara di tengah tekanan global.
"India memiliki hubungan strategis jangka panjang dengan Rusia. Hubungan ini tidak ditujukan untuk melawan negara mana pun, melainkan untuk membantu India mencapai kepentingan nasionalnya," kata Shankar kepada DW. Shankar menjelaskan bahwa penyesuaian pasokan energi merupakan langkah krusial bagi New Delhi dalam menghadapi gangguan jalur pelayaran global.
"Dalam jangka panjang, transisi menuju ekonomi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil akan memperkuat kemandirian energi India. Namun, hal ini tidak akan terjadi dalam waktu singkat," tambah Shankar.
Di sektor pertahanan, India mulai mengurangi ketergantungan pada senjata siap pakai dari Moskow dan beralih ke skema produksi dalam negeri, mengingat ketergantungan Rusia yang kian besar terhadap pasar China.
Profesor Madya Jawaharlal Nehru University, Aravind Yelery, menyoroti pergeseran ketergantungan militer India terhadap pasokan alutsista Rusia. "India tetap menjadi salah satu pembeli senjata Rusia yang tertua dan terbesar, bahkan mungkin pembeli besar terakhirnya," kata Yelery. Ia menambahkan bahwa New Delhi kini lebih selektif dalam menyetujui proyek alutsista baru dari Kremlin.
"New Delhi semakin enggan berkomitmen pada program jet tempur generasi kelima Rusia dan tidak terlalu berminat membeli peralatan militer Rusia yang baru, kecuali jika dapat dimasukkan ke dalam rencana produksi dalam negeri India," tambah Yelery.
Mengenai perbedaan karakteristik diplomasi Moskow, Yelery menilai ada perbedaan mendasar pada pendekatan yang diterapkan terhadap Beijing dan New Delhi. "Secara strategis, hubungan Rusia dengan Cina pada dasarnya tetap bersifat transaksional, sebuah ketergantungan yang tidak mampu dikorbankan Rusia. Sementara itu, hubungan Rusia dengan India didasarkan pada kemitraan," kata Yelery.
Pergeseran ini mendorong India menerapkan strategi diplomasi yang lebih fleksibel dengan memperluas kerja sama pertahanan bersama AS dan sekutu Baratnya. Profesor Studi Amerika di Jindal Global University, C Raja Mohan, menilai posisi tawar strategis Rusia kini mengalami penurunan di mata India.
"Rusia tidak lagi berada dalam posisi untuk membantu India mengimbangi Cina," kata Mohan. Ia menyebut New Delhi kini menjalankan strategi penyeimbang untuk mengamankan kepentingan nasionalnya. "India berusaha mengurangi risiko jika kebijakan Amerika berubah-ubah, tetapi tetap menyadari bahwa Washington adalah mitra terpentingnya," kata Mohan.
Di sisi lain, Moskow berharap KTT SCO ini dapat menegaskan soliditas dukungan diplomasi dari mitra-mitra utamanya di Asia.
Profesor Studi Rusia di Jawaharlal Nehru University, Rajan Kumar, menguraikan ekspektasi utama Presiden Putin dari tatap muka bersama PM Modi. "Presiden Putin membutuhkan jaminan dari Perdana Menteri Modi bahwa India tidak akan meninggalkan Rusia ketika negara itu menghadapi krisis terburuknya sejak dekade 1990-an," kata Kumar. Ia memperkirakan pembicaraan kedua pemimpin akan berfokus pada keberlanjutan mekanisme perdagangan yang sudah berjalan.
"Menurut saya, pertemuan ini lebih membahas kelanjutan hubungan yang sudah ada di tengah tekanan AS," tambah Kumar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow