Keluarga Bambang menuntut kasus kericuhan Pejompongan diusut
Bambang Setiawan, penjual cermin berusia 60 tahun dari Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tewas dalam kericuhan di Jalan Pejompongan Raya. Keluarga menyebut almarhum dikenal hangat dan mudah bergaul, serta meminta kasus diusut setelah insiden pada Kamis malam, 27 Agustus 2026.
Sudarsih, istri Bambang, mengatakan suaminya kerap disapa “Pak Bengbeng” dan terbiasa berinteraksi dengan warga tanpa memandang usia. Ia menuturkan Bambang masih berjualan hingga sore pada Kamis (27/8/2026) sebelum pulang sekitar pukul 21.00 WIB.
Sudarsih mengatakan, kegiatan sehari-hari Bambang merupakan sosok yang humble dan bisa bergaul dengan siapa pun yang ditemuinya.
"Kalau almarhum itu, kegiatan sehari-harinya, sosoknya memang orangnya humble ya. Dia bergaul itu sama siapa pun dia masuk," katanya.
Ia menyebut Bambang berbaur dari kelompok ibu-ibu hingga anak kecil dan anak muda seumuran putranya.
"Mau sama ibu-ibu, mau sama anak kecil, mau sama anak-anak muda seumuran anak saya, memang dia tuh semua masuk almarhum sosoknya," tuturnya.
Sudarsih juga menilai tidak ada manusia sempurna, namun menurutnya suaminya termasuk orang yang baik.
"Ya, kalau menurut saya ya namanya manusia kan enggak sempurna, ada jeleknya, ada bagusnya. Tapi penglihatan saya memang suami saya orang yang baik," tambah Sudarsih.
Wisnu, putra Bambang, mengungkapkan kebiasaan ayahnya menyapa, mengajak mengobrol, dan merangkul anak-anak muda hingga adiknya.
"Kalau buat saya, Bapak saya itu orangnya benar-benar bergaul dengan semua kalangan umur sih," ujar Wisnu.
Ia menambahkan, cara bergaul Bambang tidak terbatas pada usia tertentu, termasuk mengajak bermain dan nongkrong.
"Bapak bergaul enggak cuma yang seumuran dia atau yang di atasnya dia, tapi juga sampai seumuran saya, seumuran adik saya, bahkan sampai yang anak-anak juga humble banget ya. Dia ajak main, ajak nongkrong. Ya nongkrong dalam artian kayak, 'Ayo sini.' Ya jadi merangkul lah orangnya gitu," katanya.
Wisnu menyebut ada orang yang mengira Bambang belum memiliki anak dewasa karena energi dan semangatnya seperti orang muda.
"Bahkan ada beberapa orang yang kayak misalkan dia enggak kenal sama saya atau sama Bapak saya, dibilangnya itu Bapak saya masih belum punya anak, gitu. Karena di umur beliau yang terlihat sudah lumayan ya, 60, dia masih punya jiwa yang muda, semangat muda," ungkap Wisnu.
Ia juga menilai Bambang tetap berupaya memenuhi kebutuhan keluarga meski manusia memiliki kekurangan.
"Bapak orangnya ngga aneh-aneh. Dia selalu mengusahakan itu semua, gitu," tambahnya.
Yoga, putra Bambang lainnya, menggambarkan sosok ayahnya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab.
"Ya sosoknya pada umumnya kepala keluarga aja gitu. Kalau untuk orang di sekitar mungkin udah pada tahu lah sosok beliau kayak gimana," jelas Yoga.
Yoga menyebut keluarganya menganggap sifat Bambang yang leluasa bergaul tanpa membeda-bedakan lingkungan sebagai hal yang paling berkesan.
"Kalau dari Bokap itu, dianya kalau dia tuh leluasa gitu. Dia bisa bergaul sama anak kecil, sama bapak-bapak, ibu-ibu, enggak seumuran dia lah gitu, semuanya digaulin," tutup Yoga.
Kronologi singkat
Sudarsih menyatakan ia meminta Bambang menutup dagangan lebih cepat sekitar pukul 16.30 WIB karena massa mulai berkumpul dan situasi memanas. Setelah mengantar tetangga berobat, Bambang pulang sekitar pukul 21.00 WIB saat kericuhan masih terjadi dan massa didorong mundur ke arah TPU Karet.
Sekitar pukul 01.30 WIB, Sudarsih mencari Bambang dan tidak menemukannya. Keluarga mengetahui Bambang meninggal dunia setelah anaknya mengenali sosok ayah dalam video yang beredar di media sosial; dalam video itu terlihat seorang pria diduga Bambang dipukul dan diseret di trotoar.
Kepolisian menyebut Bambang sempat dievakuasi dalam kondisi pingsan setelah situasi dinyatakan cukup aman. Bambang dibawa ke RS Mintohardjo dan dinyatakan meninggal dunia, lalu jenazahnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk identifikasi dan visum.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow