Kebakaran Hanguskan 114 Rumah Permukiman Warga di Gambir

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hebat melanda permukiman warga di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, pada Senin (31/8/2026) siang hingga menghanguskan sedikitnya 114 rumah. Peristiwa tersebut berdampak pada 880 jiwa dari 310 Kartu Keluarga (KK) yang tinggal di wilayah RT 04 dan RT 05 Batuceper.

Laporan kebakaran pertama kali diterima oleh petugas pemadam kebakaran pada pukul 13.40 WIB, dan operasi penanganan langsung dimulai enam menit kemudian. Api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 18.00 WIB setelah penanganan berlangsung hampir lima jam.

Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta Bayu Meghantara mengonfirmasi bahwa situasi di area permukiman warga kini sudah berada dalam status aman atau hijau.

"Sampai dengan malam ini untuk di sisi warga ini sudah pukul 18.00 tadi ini sudah, sudah clear ya. Tapi anggota masih tetap berjaga," jelas Kadis Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Meghantara.

Penanganan juga difokuskan pada sebuah bangunan gudang kosong di sekitar lokasi yang ikut dilalap si jago merah. Petugas menjalankan proses pendinginan dan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada sisa titik api yang tersembunyi.

"Sudah hijau yang di warga. Mudah-mudahan satu titik ini kita bisa selesaikan segera, tapi memang kita lakukan secara manual," katanya.

Ia menambahkan mengenai penanganan gedung kosong yang terdampak di lokasi tersebut.

"Ini (gedung) sudah pendinginan. Sudah pendinginan sedang kami sebutnya overhaul ya. Kami coba membuka, membongkar karena takutnya api di dalam masih ada jadi pastinya seperti itu akan ada timbunan api kembali," imbuhnya.

Petugas pemadam kebakaran sebelumnya memfokuskan strategi untuk melokalisasi perambatan api agar tidak menyebar ke bangunan lain yang lebih luas.

"Status kebakaran, proses pemadaman. (Api) sudah dapat dilokalisir," kata Kasiops Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakpus, Triyanto.

Pihak kepolisian memastikan tidak ada korban jiwa dalam musibah kebakaran ini, sementara tim forensik dikerahkan untuk menyelidiki penyebab pasti munculnya api.

"Alhamdulillah untuk korban jiwa dari masyarakat sampai hari ini belum ada korban dan kita masih terus melakukan pendataan terkait jumlah rumah yang terbakar di dua RT, RT 04 dan RT 05 Batuceper, Jakarta Pusat," kata AKBP Mirzal Maulana, Wakapolres Metro Jakarta Pusat.

Polisi menjelaskan bahwa embusan angin yang kencang membuat kobaran api dengan cepat merambat ke bangunan sekitar.

"Masih didalami ya penyebab kebakaran, karena api itu sangat cepat dan angin juga kencang sekali dan saat ini tim identifikasi forensik untuk standby untuk melakukan penyisiran apabila nanti pendinginan sudah dilakukan," ujarnya.

Kepanikan melanda warga saat api mulai membesar, termasuk seorang warga bernama Deka yang mendapat kabar musibah tersebut melalui telepon dari ibunya ketika sedang berada di TPU Menteng Pulo.

"'Mak ngomong yang bener, jangan nangis dulu, Mak. Yang bener ngomong, Mak.' 'Kebakaran, Batuceper, rumah habis, ludes sama sekali nggak ada kesisa. Baju nggak kebawa'," kata Deka menirukan percakapan telepon dengan ibunya.

Ia langsung bergegas pulang menuju tempat tinggalnya meskipun harus menembus kemacetan di kawasan Harmoni demi menyelamatkan barang-barangnya.

"Sampe di Harmoni (Jakpus), saya keluar dari TPU saya di Harmoni kan merah kan suka lama ya? Saya turun. Adek ipar saya yang bawa mobil turun.

Jadi laki saya yang nyetir, saya turun di jalan. Saya minta tolong biar mobil saya tuh lewat dulu gitu. Saya mau minta berhenti. 'Tolong dong pinggir, pinggir, pinggir.

Saya lewat dulu lewat. Rumah saya kebakaran'," katanya.

Namun, cepatnya perambatan api membuat Deka tidak sempat menyelamatkan dokumen penting keluarganya saat tiba di lokasi.

"Alhamdulillah dikasih jalan sih. Walaupun lampunya merah saya bablasin, 'Udah lewat lewat lewat,' sampe nggak bisa ngomong. Rumah saya kebakaran.

Tapi pas dari seberang situ tuh yang Tanah Abang itu udah lihat api. Udah kelihatan hitam. Sampe sini, aduh, udah lemes," katanya.

Sebagian besar barang berharga dan dokumen kependudukan miliknya hangus terbakar tanpa tersisa.

"KTP saya aja cuma bawa dompet warung yang biasa saya jualan. Biasanya kan saya bawa dompet. Kalau dompet ini doang. Kartu BPJS semua nggak kebawa, buku nikah," katanya.

Kisah senada disampaikan Upi, warga terdampak lain yang panik ketika kepulan asap tebal mulai membumbung tinggi dan memenuhi permukiman.

"Ada asap besar. Tetangga udah menteriak, 'Ayo,' katanya, 'Keluar, keluar! Asapnya udah ngebul,' gitu.

Jadi saya juga panik di dalam. Saya buru-buru ngungsiin cucu saya dulu, saya pegang. Apa yang saya penting, surat-surat penting aja saya bawa," cerita Upi.

Upi bergegas membawa cucunya keluar rumah saat kobaran api makin membesar merambat ke bangunan lain.

"Udah, saya nggak bawa apa-apa. Saya ingat lagi cucu, saya punya turunan yang bayi. Udah pada keluar semua itu.

Udah api makin besar. Semua warga udah pada keluar. Sebabnya apinya merembet terus gitu," kata Upi.

Meski sebagian bangunan rumahnya hancur, Upi bersyukur seluruh anggota keluarganya berhasil menyelamatkan diri tanpa mengalami luka-luka.

"Kalau rumah dari saya mah tinggal separo-separo. Tetangga saya habis semua," kata Upi.

Ia memastikan kondisi keselamatan seluruh anggota keluarganya usai musibah tersebut.

"(Keluarga) selamat, alhamdulillah," sambungnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed