Karhutla Hantam Kaltim dan Kalteng, Matahari Merah dan Kualitas Udara Membaik

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah menyebabkan fenomena matahari merah pekat yang terlihat jelas di langit Palangka Raya pada Kamis sore (20/8/2026).

Fenomena ini terjadi karena kabut asap tebal yang menyelimuti kota, mengubah warna matahari menjadi merah menyala saat terbenam, menurut prakiraan BMKG Palangka Raya.

Kualitas udara di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, juga memburuk dalam beberapa pekan terakhir akibat kabut asap karhutla lokal dan kiriman dari daerah lain, dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 72 atau kategori 'sedang'.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Kota Tarakan, Chaizir Zain, mengatakan, "Sebagian memang merupakan asap kiriman. Namun, penyumbang polusi yang paling besar adalah asap yang berasal dari kebakaran hutan atau lahan yang terjadi secara lokal di Kota Tarakan itu sendiri."

Chaizir menambahkan bahwa meskipun kualitas udara kategori 'sedang', aktivitas di luar ruangan masih diperbolehkan. Ia juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk mengurangi pembakaran dan meningkatkan pengendalian debu.

Di Kalimantan Timur, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda mengalokasikan cadangan air dari sejumlah bendungan untuk membantu tim pemadam karhutla. Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, menyatakan, "Kita sudah beberapa kali memberikan bantuan air ke BPBD, terus Manggala Agni untuk memadamkan karhutla."

Andri menjelaskan bahwa Bendungan Sepaku Semoi masih menyimpan sekitar 13 juta meter kubik air yang cukup untuk kebutuhan pemadaman karhutla dan kebutuhan lainnya.

Selain itu, BWS juga mengatur distribusi air dari 44 titik sumber air tanah di Kaltim untuk wilayah yang mengalami kekeringan. "Kami sudah dropping (air bersih) hampir 30 atau 50 ribu liter dalam dua minggu terakhir ini," ujar Andri.

Fenomena matahari merah yang terekam warga Palangka Raya menjadi peringatan akan dampak asap karhutla terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Prakirawan BMKG Chandra mengatakan, "Ketika cahaya melewati lapisan atmosfer yang dipenuhi partikel, warna dengan panjang gelombang tertentu lebih banyak tersebar sehingga matahari dapat terlihat kemerahan, terutama ketika posisinya mulai rendah menjelang sore."

Warga diimbau untuk tetap waspada dan menggunakan masker ketika kualitas udara menurun akibat asap karhutla.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed