Karhutla di Kalimantan Tengah Disebabkan 99 Persen Ulah Manusia
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah menyebabkan asap pekat yang menjalar hingga ke negara tetangga Malaysia, menjadi perhatian internasional, seperti dilansir dari Detikcom.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla merupakan kejadian berulang di Indonesia, terutama pada 1997-1998 di lahan gambut Kalimantan dan Sumatera. Pada 2019, kebakaran melanda 328.724 hektar, 80 persen di antaranya berubah menjadi kebun.
Kepala BNPB saat itu, almarhum Doni Monardo, menyatakan, "Saya mempunyai data, penyebab Karhutla adalah 99% ulah manusia ada yang disengaja ada yang lalai, dan 80% lahan yang terbakar pada akhirnya menjadi kebun."
Studi dari Jurnal UGM oleh Purwaningsih menyebutkan 90 persen kebakaran hutan di Kalimantan disebabkan oleh aktivitas manusia antara 1973-2010 yang mengakibatkan hilangnya 123.941 km persegi hutan.
"Penyebab utama terjadinya kebakaran hutan di Kalimantan adalah karena aktivitas manusia dan hanya sebagian kecil yang disebabkan oleh kejadian alam," tulis studi tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan pembakaran lahan oleh manusia sering tidak terkendali dan sulit dipadamkan terutama di lahan gambut.
BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota menulis, "Jika kebakaran ini merupakan ulah perusahaan besar dan dalam skala besar, akan sangat sulit untuk memadamkan api dalam kebakaran. Kebakaran seperti ini akan sangat berbahaya ketika terjadi di lahan gambut atau rawa."
Mereka juga menjelaskan bahwa konflik antara perusahaan dan masyarakat pemilik lahan seringkali memicu pembakaran untuk penguasaan lahan.
BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota menilai penegakan hukum terkait karhutla masih lemah. "Meskipun aturan mengenai pembakaran hutan jelas-jelas dilarang, namun karena hukum yang diberikan bagi yang melanggar masih sangat lemah, akibatnya banyak juga oknum yang melanggar aturan dan membakar hutan secara besar-besaran untuk membuka lahan. Hal tersebut biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar," tulis mereka.
Kelompok Pengkaji Lingkungan Aesculap Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menjelaskan karakteristik lahan yang kompleks membuat kebakaran sulit dipadamkan. Mereka mengatakan, "Hutan yang terbakar hari ini bisa kehilangan kehidupan selama puluhan tahun."
Dampak karhutla sangat serius, termasuk musnahnya flora dan fauna, polusi udara beracun, penyakit ISPA, berkurangnya sumber air bersih, serta ancaman kesehatan bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Selain itu, daerah terbakar berpotensi memicu tanah longsor saat musim hujan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow