Kanker Payudara Mendominasi Kasus Kanker Perempuan di Indonesia
Kanker payudara kini menjadi jenis kanker paling dominan yang menyerang perempuan Indonesia menggantikan kanker serviks akibat pergeseran gaya hidup. Hal ini dilansir dari Investor Daily berdasarkan keterangan pakar medis Singapura dr See Hui Ti.
Data Global Cancer Observatory 2022 mencatat 408.661 kasus baru dan 242.988 kematian akibat kanker di Indonesia. Kasus kanker payudara memimpin dengan 66.271 kasus, diikuti kanker serviks sebanyak 36.964 kasus, dan kanker ovarium 15.130 kasus.
Di tingkat global, WHO mencatat 2,4 juta kasus baru kanker payudara dan 604 ribu kasus kanker serviks sepanjang 2024. Perubahan pola makan tinggi gula serta minimnya aktivitas fisik turut meningkatkan risiko pemicu kanker rahim di masa depan.
Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre Singapura dr See Hui Ti memberikan penjelasan mengenai pergeseran tren penyakit ini.
"Berkurangnya aktivitas fisik, meningkatnya obesitas, serta pola makan tinggi gula menjadi faktor yang ikut meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker rahim," ungkap dr See Hui Ti.
Meningkatnya jumlah angka penderita juga berkaitan dengan teknologi pemindaian medis yang makin canggih di fasilitas kesehatan.
“Karena itu menjaga berat badan ideal, kurangi konsumsi gula, rutin berolahraga, menghindari rokok dan alkohol, serta menerapkan pola hidup sehat tetap menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko kanker,” tegas dr See Hui Ti.
Pola konsumsi glukosa berlebihan diketahui dapat memicu respons peradangan sistemik yang meningkatkan metabolisme sel kanker.
“Karena itu para dokter merancang diet ketogenik yang sangat spesifik, seperti pada anak epilepsi, di mana mereka mengonsumsi 95% lemak, sekitar 4% protein, dan hanya 1% karbohidrat. Diet ketogenik memang benar-benar dapat membalikkan kondisi kanker jenis ini (perempuan) karena diet ini menurunkan kadar insulin hingga ke titik yang sangat, sangat, sangat rendah,” ujar dr See Hui Ti.
Perkembangan teknologi medis kini menghadirkan pengobatan presisi atau precision medicine yang disesuaikan dengan profil biologis tumor setiap pasien.
"Saat ini kami memahami bahwa kanker bukanlah satu penyakit yang sama pada setiap pasien. Dua orang yang sama-sama didiagnosis kanker payudara dapat memiliki karakteristik biologis yang berbeda sehingga pendekatan terapinya pun harus disesuaikan dengan profil masing-masing pasien," ujar dr See Hui Ti.
Selain terapi presisi, pemanfaatan kecerdasan buatan membantu menekan potensi kesalahan manusia saat membaca hasil pencitraan radiologi.
"AI membantu mengurangi human error, tetapi keputusan medis tetap harus mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh." kata dr See Hui Ti.
Dukungan psikologis dari lingkungan keluarga dan komunikasi efektif dengan tim medis turut memengaruhi keberhasilan pemulihan pasien.
"Bagi pasien, yang paling diingat bukanlah nama obat yang diberikan, melainkan apakah mereka merasa didengar, dipahami, dan didukung dalam lingkungan yang suportif,” jelas dr See Hui Ti.
Upaya pencegahan primer tetap mengandalkan intervensi deteksi dini guna meningkatkan tingkat kesembuhan pasien pada stadium awal.
"Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien memperoleh pengobatan yang efektif sekaligus mempertahankan kualitas hidup yang baik,” jelas dr See Hui Ti.
WHO menetapkan target eliminasi kanker serviks melalui program vaksinasi HPV nasional serta pemeriksaan rutin bagi perempuan kelompok usia rentan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow