Perempuan Usia 40-an Perlu Mengenali Tanda Perimenopause Sejak Dini

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Perempuan yang telah memasuki rentang usia 40-an diimbau untuk mulai memahami berbagai perubahan tubuh terkait fase perimenopause. Pemahaman awal ini dinilai krusial agar keluhan fisik maupun emosional dapat dikelola tepat sasaran, dilansir dari Investor Daily.

Perimenopause merupakan masa transisi menuju menopause yang dipicu oleh fluktuasi kadar hormon estrogen dan progesteron. Fase alami tersebut umumnya mulai dialami perempuan pada rentang usia 40 hingga 50 tahun dan dapat berlangsung selama beberapa tahun.

Gejala yang muncul meliputi siklus haid tidak teratur, insomnia, tubuh cepat lelah, perubahan suasana hati, kenaikan berat badan, hingga penurunan konsentrasi. Sebagian perempuan juga merasakan gangguan pada kandung kemih, kulit, rambut, otot, tulang, serta sistem metabolisme.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Primaya Hospital, Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG, menjelaskan bahwa rata-rata perempuan mulai memasuki masa perimenopause pada usia 47,5 tahun, sedangkan menopause terjadi sekitar usia 51,3 tahun.

Martina menegaskan bahwa perubahan hormon tersebut memengaruhi berbagai fungsi organ, bukan hanya sistem reproduksi. Pemahaman dini membantu menentukan kapan cukup melakukan penyesuaian gaya hidup dan kapan harus berkonsultasi ke tenaga medis.

"Dengan mengenali perubahan sejak dini, perempuan dapat mengetahui kapan cukup melakukan perubahan gaya hidup dan kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga medis," ujarnya dalam seminar di Jakarta.

CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali menekankan bahwa perimenopause adalah proses biologis yang normal, bukan sebuah penyakit. Pemeriksaan serta penanganan medis sebaiknya disesuaikan dengan keluhan spesifik dan kondisi masing-masing individu.

"Yang terpenting adalah memahami kapan perlu mencari pertolongan medis agar penanganannya tidak terlambat, tetapi juga tidak berlebihan," ujarnya.

Spesialis gizi klinik Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., Subsp.PK, menyebutkan bahwa nutrisi seimbang sangat penting untuk mempertahankan massa otot dan metabolisme. Perubahan hormon berpotensi meningkatkan penumpukan lemak perut serta risiko penyakit kronis seperti diabetes, gangguan jantung, dan osteoporosis.

Untuk mengantisipasinya, konsumsi protein, serat, vitamin, mineral, serta cairan perlu dicukupi. Sebaliknya, asupan gula, garam, dan lemak jenuh wajib dibatasi.

Di sisi lain, spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR, menyarankan aktivitas fisik rutin secara bertahap. Latihan kekuatan, jalan kaki, peregangan, dan latihan keseimbangan terbukti membantu menjaga kebugaran jantung, otot, dan tulang.

Gustiawaty juga mengingatkan gangguan dasar panggul yang kerap memicu kebocoran urine saat batuk atau berolahraga. Keluhan ini dapat ditangani melalui konsultasi medis dan latihan otot dasar panggul yang tepat.

Kesehatan Kulit, Rambut, dan Emosional

Penurunan estrogen turut memicu pengurangan produksi kolagen dan elastin. Dokter Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp.FOMC, menjelaskan kondisi ini membuat kulit menipis serta kering, sementara pertumbuhan rambut memendek sehingga tampak menipis.

Perawatan yang disarankan meliputi penggunaan pelembap, tabir surya, pemenuhan nutrisi harian, serta konsultasi dokter jika terjadi kerontokan parah.

Selain fisik, perubahan suasana hati juga sering terjadi. Spesialis kedokteran jiwa dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc, mengungkapkan bahwa tekanan emosional timbul dari kombinasi perubahan hormon dan beban kehidupan, seperti tuntutan kerja serta keluarga.

"Perubahan suasana hati merupakan respons yang dapat muncul akibat perubahan hormon dan tekanan kehidupan yang terjadi secara bersamaan," ungkapnya.

Leonita menyarankan teknik pengelolaan stres STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed). Keterbukaan komunikasi dengan pasangan dan keluarga juga disuarakan oleh CEO Yoona Women Susanna Angraini agar perempuan tidak merasa berjuang sendirian.

COO Blibli Lisa Widodo menambahkan bahwa perimenopause tidak menghentikan produktivitas perempuan. Bantuan medis segera diperlukan jika terjadi perdarahan hebat, nyeri berat, gangguan tidur parah, atau perubahan emosi yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed