Jumlah Pengangguran Sarjana di Indonesia Tembus 1 Juta Orang

Smallest Font
Largest Font

Jumlah pengangguran dari lulusan sarjana, D4, S2, hingga S3 di Indonesia telah mencapai lebih dari 1 juta orang, menurut data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), dilansir dari Detikcom.

Pakar Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menyebutkan bahwa tingginya angka pengangguran sarjana ini bukan disebabkan oleh kompetensi atau kesiapan kerja para lulusan.

Radius menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama adalah deindustrialisasi dan pertumbuhan sektor ekonomi yang semakin padat modal, yang tidak sebanding dengan penciptaan lapangan kerja.

"Kalau investasi semakin banyak masuk ke sektor padat modal, tetapi penciptaan pekerjaan tidak sebanding, kita menghadapi persoalan struktural. Sarjana semakin banyak, tetapi ruang untuk mengubah modal pendidikan menjadi pendapatan justru terbatas," ujar Radius, mengutip laman Umsura.

Dia juga mengimbau agar pengangguran sarjana tidak dibebankan hanya kepada individu atau perguruan tinggi, melainkan harus dipahami sebagai masalah struktur sosial dan ekonomi.

"Jangan melihat sarjana menganggur semata sebagai kegagalan individu. Ini juga persoalan struktur sosial. Kita perlu melihat siapa yang memiliki kapital untuk mendapatkan pekerjaan dan siapa yang tidak, serta bagaimana struktur ekonomi menciptakan atau justru membatasi kesempatan tersebut," tambahnya.

Menurut Radius, ijazah sering dianggap sebagai tiket untuk naik kelas sosial, tetapi modal budaya tersebut belum tentu langsung menjadi modal ekonomi yang dapat menjamin pekerjaan.

"Tetapi modal budaya tidak otomatis berubah menjadi modal ekonomi. Untuk mendapatkan pekerjaan, seseorang juga membutuhkan modal sosial berupa jaringan, pengalaman, relasi, bahkan dukungan ekonomi," kata Radius.

Dia menegaskan bahwa dua orang dengan gelar sarjana yang sama belum tentu memiliki peluang kerja setara, karena kapital sosial dan ekonomi yang dimiliki berbeda.

"Jadi persoalannya bukan sekadar siapa yang kompeten, tetapi siapa yang memiliki kapital untuk masuk dan bertahan di pasar kerja," ujarnya.

Lebih lanjut, Radius menyoroti ketimpangan kapital yang menyebabkan perbedaan perjalanan karier setiap lulusan, di mana mereka yang memiliki dukungan lebih tidak memulai dari posisi yang sama dengan yang hanya bermodal ijazah.

"Karena itu, ketika kita berbicara tentang pengangguran sarjana, kita juga harus melihat bagaimana ketimpangan privilege menentukan siapa yang lebih mudah mengubah modal pendidikan menjadi pekerjaan dan siapa yang tetap berada dalam antrean pengangguran," pungkasnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed