Iran Perkuat Ketahanan dan Incar Akses Militer AS dalam Perang

Smallest Font
Largest Font

Panglima Angkatan Darat Iran Mayor Jenderal Amir Hatami menegaskan bahwa perang modern tidak lagi semata ditentukan oleh senjata, melainkan oleh kekuatan kehendak dan ketahanan masyarakat pada Senin, 24 Agustus 2026. Pernyataan tersebut disampaikan di Mashhad di tengah ketegangan militer dengan Amerika Serikat yang berdampak pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz dan jaringan pengawasan udara di kawasan Teluk.

Perang hari ini adalah perang kehendak, pemikiran, dan ketahanan bangsa-bangsa, kata Hatami saat bertemu dengan para komandan satuan regional Angkatan Darat Iran di Mashhad, seperti dilaporkan Tasnim News Agency.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, militer Iran meresmikan lebih dari 1.000 unit rumah dinas serta sejumlah fasilitas kesejahteraan personel di wilayah pangkalan barat laut, barat, dan timur laut. Hatami menjelaskan bahwa penguatan sumber daya manusia dan peningkatan kesejahteraan prajurit berbanding lurus dengan kesiapan pertahanan negara.

Persiapan tempur tidak hanya bergantung pada peralatan. Modal terpenting setiap angkatan bersenjata adalah sumber daya manusianya, ujar Hatami.

Di sisi lain, konflik tersebut berdampak langsung pada situasi navigasi di Selat Hormuz. Berdasarkan analisis Rosemary Kalanick dari Defense Priorities yang dimuat The New York Times pada 24 Agustus 2026 dan dilansir Fars News Agency, Amerika Serikat tidak mampu membuka kembali selat tersebut secara penuh, sementara Iran juga tidak memiliki kemampuan untuk menutupnya secara total. Volume minyak yang melintas turun dari 20 juta barel per hari sebelum perang menjadi sekitar 5 juta barel per hari tanpa izin eksplisit dari Teheran.

Trump harus menghadapi kenyataan, tulis Kalanick.

Kalanick menilai Washington perlu mempertimbangkan opsi realistis demi mengurangi risiko keamanan dan tekanan pada pasar minyak global, mengingat posisi geografis Iran memberikan keunggulan taktis melalui rudal presisi dan pesawat nirawak.

Selat itu harus dibuka kembali, bahkan jika hal tersebut berarti Iran mengenakan pungutan atas lalu lintas yang melintasinya, tulisnya.

Selain ketegangan di jalur pelayaran, infrastruktur pengawasan udara militer Amerika Serikat turut mengalami tekanan. Gambar satelit memperlihatkan kerusakan pada radar taktis AN/TPS-57 di Pangkalan Udara Al Dhafra, Uni Emirat Arab. Laporan ABC News yang memverifikasi materi visual mencatat sedikitnya 10 situs radar Amerika Serikat dan sekutunya terkena serangan sejak awal perang, yang berdampak pada penurunan efisiensi jaringan pengawasan udara kawasan.

Di bidang teknologi pertahanan, Korps Garda Revolusi Islam Iran berhasil menjatuhkan sekitar 170 pesawat AS dan Israel menggunakan sistem pertahanan udara baru, termasuk pesawat nirawak MQ-9 Reaper. Penjatuhan armada tersebut membuat mesin turboprop Honeywell TPE331-10GD milik Reaper jatuh ke tangan militer Iran pada 19 Agustus 2026, yang kini menjadi objek penelitian teknis bagi industri pertahanan Teheran.

Musuh, setelah gagal mencapai tujuannya, tidak berhenti membuat konspirasi dan merancang ancaman baru, katanya.

Hatami mengingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran terus memantau setiap pergerakan lawan dan tidak akan membiarkan wilayahnya dijadikan medan uji coba militer asing.

Musuh harus tahu bahwa Iran bukan medan untuk menguji konspirasi dan petualangan mereka, ujarnya.

Iran memastikan seluruh potensi pertahanan akan dikerahkan untuk menjaga integritas wilayah serta kedaulatan nasional dari pengaruh luar.

Kami harus menggagalkan musuh dan membuat mereka merasakan pahitnya kegagalan sehingga mereka memahami bahwa Iran bukan tempat bagi seseorang yang datang dari belahan dunia lain lalu mengatakan akan mengubah peta negara ini, katanya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed