Iran memangkas ketergantungan dolar akibat sanksi dan blokade AS
Teheran menghadapi penurunan aktivitas perdagangan nasional hingga 25 persen hingga 35 persen akibat sanksi ekonomi yang diperketat dan blokade laut oleh Amerika Serikat, sementara Iran didorong memangkas ketergantungan pada dolar AS, kata Mojtaba Khamenei, sebagaimana dilaporkan Investor Daily. Menurut Presiden Iran Masoud Pezeshkian, penurunan itu mencakup ekspor dan impor, dengan kontraksi impor menjadi yang terdalam. "Data ini membuktikan sanksi internasional membawa dampak nyata bagi perekonomian kita," ujar Pezeshkian dalam wawancara bersama stasiun televisi negara, sebagaimana dikutip CNBC internasional pada Sabtu (29/8/2026).
Pejabat itu juga menepis klaim bahwa sanksi barat tidak berpengaruh.
"Sangat vital bagi kita untuk menghentikan peran dominan dolar AS secara bertahap dan menjadikan 'Ekonomi Perlawanan' sebagai pilar utama pembangunan," tegas Mojtaba Khamenei melalui pernyataan resminya. Dalam pernyataan tersebut, Mojtaba Khamenei menyerukan pemprioritasan pertumbuhan produksi dalam negeri dan transisi meninggalkan dolar AS.
Investor Daily melaporkan tekanan meningkat setelah Kementerian Keuangan AS meluncurkan kampanye sanksi bertajuk Operation Economic Outcast untuk memutus akses serta hubungan ekonomi Iran di tingkat global. Langkah awal yang diajukan AS adalah pemutusan akses perbankan koresponden bagi Banque Misr yang beroperasi di Uni Emirat Arab (UEA).
AS menyebut bank itu memproses transaksi senilai US$ 1,8 miliar selama dua tahun terakhir untuk 103 perusahaan yang dinilai terkait jaringan perbankan gelap Iran. Banque Misr UEA menyatakan telah bekerja sama penuh dengan otoritas terkait dan memastikan tindakan regulasi dibatasi pada cabangnya di UEA tanpa mengganggu layanan nasabah. Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan menghadang puluhan kapal komersial yang berupaya melanggar aturan blokade.
Menurut lembaga intelijen komoditas Kpler, volume ekspor minyak mentah Iran turun lebih dari 80 persen menjadi sekitar 260.000 barel per hari dibanding periode yang sama tahun lalu, sebagaimana diberitakan Investor Daily.
Kementerian Minyak Iran mengklaim masih memiliki cadangan minyak untuk memenuhi kebutuhan anggaran negara periode 2026–2027. Otoritas Iran menyebut telah menyetorkan dana hasil penjualan minyak sebesar US$ 7,5 miliar ke bank sentral untuk mengamankan belanja valuta asing hingga awal 2027. Investor Daily menyebut krisis ekonomi dan ketegangan militer terkait dampak eskalasi konflik terbuka di kawasan Teluk, termasuk kebuntuan akses navigasi Selat Hormuz yang terus membayangi stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan Timur Tengah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow