Militer Iran Klaim Seribu Tentara Israel Tewas Dalam Perang
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi mengeklaim lebih dari 1.000 tentara Israel tewas dan ribuan lainnya terluka dalam perang melawan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan Shekarchi saat memberikan keterangan kepada media di Teheran pada Selasa, 1 September 2026.
Pihak militer Iran menyatakan serangan balasan telah menyasar berbagai lokasi strategis, pusat intelijen, serta instalasi militer di seluruh wilayah pendudukan. Selain itu, pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan kawasan Asia Barat juga menjadi target serangan gelombang pesawat nirawak dan rudal Iran.
Data dari pihak Iran menunjukkan pihak Amerika Serikat turut menderita kerugian berupa ratusan korban jiwa dan ribuan personel terluka. Militer Iran melaporkan bahwa pangkalan udara al-Minhad di Uni Emirat Arab sempat ditargetkan oleh puluhan drone kamikaze sebagai tindakan balasan atas serangan sebelumnya di Pulau Larak.
Di samping laporan jatuhnya korban di pihak lawan, Pemerintah Iran mengecam kerugian sipil yang dialami negaranya. Salah satu peristiwa menonjol adalah serangan terhadap sekolah perempuan Shajareh Tayyebeh di kota Minab yang mengakibatkan sedikitnya 165 murid, guru, dan orang tua meninggal dunia pada akhir Februari 2026.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengonfirmasi bahwa departemen hukum Kementerian Luar Negeri Iran terus mendokumentasikan dugaan kejahatan perang yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat dan Israel. Langkah tersebut diambil guna membawa bukti-bukti pelanggaran hukum humaniter ke berbagai forum internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran menyampaikan pandangannya mengenai kondisi militer lawan dan transparansi laporan korban jiwa.
"Militer AS adalah sebuah tentara bergaya-Hollywood, angkatan bersenjata propaganda yang melakukan penjarahan dan eksploitasi sumber daya negara-negara Muslim. Pencapaian terbaik kami adalah bahwa kami mengekspose fasad Hollywood dari militer AS dan rezim Zionis, dan seluruh dunia menyadari betapa lemah dan tak bermoralnya dua militer ini," kata Abolfazl Shekarchi, Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran.
Ia menambahkan bahwa masyarakat internasional serta negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat mulai meragukan kemampuan pertahanan negara tersebut.
"jika Amerika Serikat tidak bisa mempertahankan dirinya sendiri, bagaimana mereka mempertahankan sekutunya?" kata Abolfazl Shekarchi, Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran.
Mengenai data statistik korban di pihak sekutu, pejabat militer Iran tersebut menuding adanya penutupan informasi secara sengaja oleh pemerintah Amerika Serikat dan Israel.
"Amerika dan rezim Zionis berbohong soal angka-angka korban jiwa mereka dan menyensor kebenaran. Sebagai contoh, mereka baru membuka jumlah korban tewas dari personel militer mereka di perang Afghanistan dan Irak beberapa tahun setelah prajurit mereka terbunuh, dan kemudian menyerahkan jenazah mereka ke keluarga," kata Abolfazl Shekarchi, Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran.
Ia juga menegaskan ketetapan sikap Iran terkait penguasaan jalur perairan strategis di kawasan Selat Hormuz.
"Tanggapan kami terhadap presiden AS dan para pemimpin [Amerika] lainnya adalah bahwa mereka hanya bisa berfantasi menganggap Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah mereka," kata Abolfazl Shekarchi, Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran.
Dalam kesempatan terpisah, pihak Iran juga berjanji akan membalas tindakan atas kematian para warga sipil dan pimpinan mereka.
"Hal ini mungkin memakan waktu—cepat atau lambat—namun pasti akan dilaksanakan," kata Abolfazl Shekarchi, Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran.
Upaya Iran menempuh jalur hukum internasional dilakukan bersamaan dengan pengiriman surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Presiden Dewan Keamanan PBB guna menuntut penyelidikan atas dugaan pelanggaran hukum perang di wilayahnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow