Investor Korea Selatan Alihkan Dana ke Pasar Saham AS
Aksi borong saham dan produk investasi Amerika Serikat marak dilakukan investor ritel Korea Selatan untuk menghindari risiko koreksi pasar domestik. Berdasarkan data Korea Exchange yang dilansir CNBC pada Selasa (18/8/2026), fenomena pemindahan dana ini terjadi saat investor asing justru berbalik mencatatkan beli bersih di bursa Korea Selatan.
Data Korea Securities Depository mencatat pembelian bersih saham AS oleh investor ritel Korea Selatan menembus angka sekitar US$ 4,5 miliar pada Juli. Angka transaksi tersebut mengalami lonjakan signifikan dari bulan Juni dan hampir mendekati rekor pembelian bersih senilai US$ 5 miliar pada Januari.
Aktivitas investasi ini diwarnai oleh aksi pemborongan American Depositary Receipts (ADR) perusahaan pembuat chip domestik seperti SK Hynix senilai US$ 840 juta. Selain itu, transaksi produk berdaya ungkit (leverage) turut mendominasi, seperti Direxion Daily Semiconductor Bull 3X Shares ETF (SOXL) dan ProShares Ultra QQQ ETF.
Penjualan bersih saham domestik oleh pemodal ritel berlangsung bersamaan dengan penurunan saldo pinjaman margin pasar saham Korea Selatan. Asosiasi Investasi Keuangan Korea mencatat instrumen tersebut merosot dari 37 triliun won pada akhir Juni menjadi 27 triliun won pada awal bulan ini.
Analis melihat adanya anomali dalam tingginya minat investor membeli ADR perusahaan dalam negeri yang tercatat di bursa AS dengan harga premi 10 persen.
"Itu benar-benar gila," kata Owen Lamont, Senior Vice President Acadian Asset Management.
Lamont menambahkan bahwa perbedaan harga tersebut berpotensi mengindikasikan spekulasi berlebihan di pasar.
"Tidak ada alasan bagi investor Korea untuk membeli ADR saham Korea di AS," kata Lamont.
Ia membandingkan gejolak ini dengan kondisi beberapa emiten Taiwan dan India era dot-com.
"Mereka adalah gejala dari gelembung," ujarnya.
Ia menyoroti waktu pengalihan dana yang bertepatan dengan momentum penurunan pasar saham Korea.
"Namun, tetap cukup menarik bahwa mereka meningkatkan pembelian saham AS ketika pasar Korea sedang anjlok," ujarnya.
Pengamat pasar menilai pergeseran geografis ini tidak mengubah fokus investasi ritel pada sektor teknologi kecerdasan buatan (AI).
"Ironisnya, jika Anda menguraikan data dan melihat apa yang mereka beli, sebagian besar saham tersebut masih terkait dengan tema perangkat keras AI yang mengalami aksi jual di pasar domestik," kata Phillip Wool, Head of Research Rayliant Global Advisors.
Strategi pengalihan dana ini dipandang sebagai bentuk pencarian instrumen yang memiliki tingkat likuiditas lebih tinggi.
"Mereka tidak serta-merta mengurangi eksposur mereka terhadap tema AI," kata Jung In Yun, pendiri Fibonacci Asset Management.
Pengalihan armada investasi tersebut dinilai hanya sebatas pergantian kendaraan transaksi.
"Mereka mungkin hanya mengubah kendaraan geografis yang digunakan untuk mengekspresikan pandangan yang sama," lanjutnya.
Kejatuhan pasar modal Korea Selatan (KOSPI) dan Taiwan (TAIEX) akibat euforia sektor AI turut menjadi sorotan praktisi bursa Indonesia.
"Ternyata koreksinya kaget-kagetan menyebabkan margin call yang besar-besaran di Korea dan Taiwan," katanya Armand Wahyudi Hartono, Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI).
Armand menekankan pentingnya bagi para pelaku pasar di tanah air untuk mengambil pelajaran dari dinamika pergerakan modal global tersebut.
"Ya, mengingatkan lah bagi kita di Indonesia untuk belajar, namanya pasar selalu melewati siklus-siklus seperti itu, tidak bisa dihindarkan. Tapi, untuk kita harus selalu belajar dari pasar manapun di global. Terima fakta bahwa namanya capital market itu bisa ke mana saja di global melihat mana yang lagi paling cantik," terangnya.
Armand berpendapat bahwa emiten yang sanggup menjaga kepercayaan investor dalam kondisi penuh ketidakpastian akan mampu bertahan.
"Yang akan survive dan kita lihat di situasi seperti ini memang banyak tantangan, namun menjadi opportunity bagi yang bisa dipercaya di situasi tersebut," katanya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat adanya peningkatan skor tata kelola perusahaan Indonesia dalam ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) 2024 menjadi 84,41, meski posisinya masih berada di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
"Memang ini sudah ada kemajuan, ada peningkatan, namun tentunya masih ada ruang perbaikan yang harus kita kerjakan bersama-sama," kata Khoirul Muttaqien, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.
Khoirul memaparkan sejumlah poin krusial dalam tata kelola emiten dalam negeri yang masih membutuhkan pembenahan intensif.
"Salah satu area yang masih perlu diperkuat itu adalah transparansi remunerasi dan juga kebijakan transaksi pihak berelasi. Kemudian independensi dan efektivitas komite nominasi dan remunerasi, kualitas bahan rapat organ perusahaan, keterkaitan remunerasi dengan kepentingan jangka panjang dan kinerja keberlanjutan, serta praktik RUPS yang semakin transparan dan partisipatif," terang Khoirul.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow