Bursa Asia Melemah Menjelang Pertemuan The Fed dan Rilis Kinerja Nvidia
Pasar saham Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026) akibat lonjakan imbal hasil obligasi global dan kekhawatiran konflik Amerika Serikat dengan Iran yang berkepanjangan. Investor menanti rilis data inflasi, simposium The Fed di Jackson Hole, serta laporan keuangan Nvidia.
Indeks MSCI Asia Pasifik tercatat terkoreksi 0,1 persen, sementara Kospi Korea Selatan merosot 0,71 persen hingga 1,2 persen. Sebaliknya, indeks Nikkei 225 Jepang turun tipis 0,10 persen dan S&P/ASX 200 Australia berhasil menguat 0,33 persen menurut laporan CNBC.
Tekanan di pasar modal terpicu oleh kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun yang sempat menembus 5,3 persen pekan lalu. Fenomena lonjakan suku bunga pasar obligasi ini juga melanda Jepang, Prancis, dan Jerman ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Di pasar komoditas, minyak Brent merosot 1 persen ke level 93,45 dolar AS per barel menjelang pengumuman rencana isolasi ekonomi Iran oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Harga minyak sendiri telah melonjak lebih dari 50 persen sepanjang tahun ini akibat hambatan pasokan di Selat Hormuz.
Sektor teknologi turut membayangi pasar seiring pengumpulan dana Alibaba sebesar 10,2 miliar dolar AS untuk ekspansi kecerdasan buatan. Di saat bersamaan, Nvidia bersiap menaikkan harga server berbasis chip Vera Rubin dan Grace Blackwell lebih dari 15 persen untuk pengiriman awal tahun depan.
"Tanpa pemotongan belanja atau peningkatan pendapatan yang kredibel, rencana Gedung Putih berisiko hanya menjadi sekadar mempercantikan tampilan luar," tulis Elias Haddad, Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman.
Sementara itu, yield obligasi yang melonjak mendorong respons taktis dari otoritas keuangan Amerika Serikat.
Chief Market Strategist Jefferies David Zervos menilai keputusan Treasury AS untuk meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang secara taktis pada dasarnya merupakan bentuk "Operation Twist" yang dipimpin pemerintah.
Langkah Treasury tersebut dianggap berpotensi memberi efek reflasi jangka panjang di tengah antisipasi investor terhadap pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pekan ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow