IHSG Korea Selatan KOSPI Anjlok ke 5.593 Tertekan Saham Chip
Pasar saham Korea Selatan ditutup melemah pada Kamis, 30 Juli 2026, akibat aksi jual tajam investor ritel yang menekan indeks KOSPI hingga berakhir di level 5.593,56, turun 69,68 poin atau 1,23 persen dari hari sebelumnya.
Meskipun sempat melonjak mendekati level 6.000 pada perdagangan pagi karena aksi pemburu harga murah, KOSPI gagal mempertahankan penguatan akibat tekanan jual massif pada sore hari. Indeks KOSDAQ juga merosot 2,70 persen ke level 644,78.
Pelemahan ini melanjutan gejolak besar sejak Selasa, 28 Juli 2026, saat KOSPI anjlok 10,84 persen dan mengalami koreksi harian terdalam sejak Maret. Tekanan berlanjut pada Rabu, 29 Juli 2026, ketika indeks sempat merosot 12,6 persen hingga memicu penghentian perdagangan sementara sebelum ditutup turun 5,98 persen di level 5.663,24.
Gelombang penjualan dipicu oleh penurunan harga saham Nvidia sebesar hampir 5 persen di Wall Street pada Senin, 27 Juli 2026. Laporan mengenai pembahasan jaminan pembiayaan Nvidia senilai US$250 miliar untuk proyek pusat data OpenAI menghidupkan kekhawatiran investor terkait pendaanaan melingkar (circular financing) di industri kecerdasan buatan (AI).
Dua raksasa chip Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, memegang lebih dari 51 persen total kapitalisasi pasar KOSPI. Pada perdagangan Selasa, saham Samsung Electronics jatuh 13,4 persen, sementara SK Hynix merosot 14,7 persen, menyeret seluruh bursa saham kawasan.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Korea pada 30 Juli 2026, investor ritel mencatatkan aksi jual bersih sebesar 1,41 triliun won karena kekhawatiran atas kekurangan jaminan margin. Sebaliknya, investor asing dan institusi melakukan aksi beli bersih masing-masing sebesar 1,3 triliun won.
Mekanisme pengereman otomatis bursa (sidecar) tercatat telah aktif sebanyak 43 kali di KOSPI dan 29 kali di KOSDAQ sepanjang tahun 2026. Total 72 kali aktivasi ini melampaui rekor 26 kali aktivasi yang dicatat saat krisis keuangan global 2008.
Sejumlah pengamat meragukan efektivitas penangguhan perdagangan lima menit dalam meredam tekanan pasar yang didorong oleh perdagangan algoritmik. Namun, ekonom memberikan sudut pandang lain mengenai kondisi volatil bursa saham saat ini.
"Tidak ada yang berkomentar saat pasar naik secara tidak wajar, tetapi ketika jatuh, kekhawatiran mendadak muncul. Mengingat betapa panasnya kondisi pasar sebelumnya, koreksi merupakan hal yang tidak terhindarkan," kata Shin Se-don, Profesor Emertius Ekonomi Sookmyung Women's University.
Selain kekhawatiran valuasi AI dan leverage investor ritel, tekanan terhadap bursa saham Asia juga dipicu oleh kemajuan teknologi semikonduktor China, termasuk pengembangan peralatan litografi deep-ultraviolet (DUV) domestik yang mengancam dominasi produsen memori global.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow