Donald Trump Kecam Penolakan Warga Terhadap Pembangunan Data Center
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap warga yang menolak pembangunan fasilitas data center baru. Gelombang penolakan dari pemilih ini menjadi ancaman serius bagi Partai Republik menjelang pelaksanaan pemilihan paruh waktu bulan November, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
"Satu-satunya alasan mengapa masyarakat di seluruh AS tak menginginkan Data Center adalah jika mereka ingin berakhir terbelakang dan miskin," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.
Trump menilai keberadaan pusat data tersebut sangat krusial bagi pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja daerah.
"Jika mereka ingin sukses dan kaya, dengan pajak yang jauh lebih rendah dan lapangan kerja di mana-mana, biarkan Data Berjaya," kata sang presiden yang dikutip detikINET dari CNBC.
Ia juga menyentil persaingan global, khususnya ancaman dari pihak luar yang diuntungkan oleh dinamika penolakan lokal ini.
"Kabar baiknya adalah ada banyak tempat lain menginginkannya. Jika kita membunuh Angsa Bertelur Emas ini, kalian hanya bisa menyalahkan diri sendiri. China sangat gembira dengan gerakan anti Pusat Data ini. Sebenarnya, mereka tidak percaya ini sedang terjadi!" tulisnya.
Kritik dari Trump mengemuka hampir sepekan setelah National Republican Senatorial Committee (NRSC) merilis memo internal. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa sentimen negatif warga terhadap pusat data dapat meluas ke berbagai wilayah lain jika tidak segera ditangani secara efektif.
Peringatan NRSC bertolak dari ketatnya persaingan pada pemilihan khusus Senat di Ohio. Senator Partai Republik, Jon Husted, berhadapan langsung dengan politisi Partai Demokrat, Sherrod Brown, untuk memperebutkan kursi yang ditinggalkan Wakil Presiden JD Vance.
Data penelitian independen turut merekam tren penurunan dukungan publik terhadap infrastruktur teknologi ini. Pada 28 Agustus, Wolfe Research melaporkan adanya lonjakan resistensi warga yang cukup drastis.
"Hampir dalam setiap pertemuan dengan investor selama sebulan terakhir, kami ditanya bagaimana reaksi penolakan pemilih terhadap data center ini akan berakhir?" ujar laporan Wolfe Research.
Analis lembaga penelitian tersebut menyoroti perubahan sikap masyarakat yang terjadi amat cepat di berbagai daerah.
"Kecepatan dan skala penolakan benar-benar mencengangkan, kami belum pernah melihat yang seperti ini. Kami melihat penurunan 60 poin dukungan bersih untuk pembangunan data center lokal lintas partai selama 12 bulan terakhir," sebut laporan itu.
Kebutuhan lahan dan daya untuk data center AI meningkat tajam guna menopang infrastruktur komputasi pengembang besar seperti OpenAI dan Anthropic. Namun, lonjakan proyek ini memicu penolakan warga akibat kekhawatiran atas lonjakan tarif listrik, penggunaan air, serta krisis pasokan daya lokal.
Tingginya resistensi publik pada akhirnya dimanfaatkan dalam narasi politik regional, termasuk dalam kontestasi politik di Ohio.
"Masalah barunya adalah data center. Ohio adalah salah satu pemimpin dalam membangun pabrik-pabrik AI ini. Brown telah menjadikan penolakannya terhadap proyek ini sebagai fokus utama kampanyenya melawan Husted. Brown menggunakannya karena cara ini berhasil," kata NRSC.
Pihak NRSC menggarisbawahi bahwa isu ini dapat memicu efek domino bagi pengambil kebijakan di daerah lain.
"Data center adalah beban berat yang mengalungi leher Husted. Jika ia kalah dan data center yang disalahkan, politisi di seluruh negeri akan memperhatikannya dan mereka takkan mau mendekati proyek selanjutnya," tambah mereka.
Hasil survei Gallup pada bulan Mei lalu mengonfirmasi bahwa tujuh dari 10 warga Amerika menolak pembangunan data center AI di lingkungan pemukiman mereka, dengan 48 persen di antaranya menyatakan sangat menolak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow