Indonesia Jadi Pusat Pertumbuhan Infrastruktur AI dan Data Center Asia Tenggara

Smallest Font
Largest Font

Indonesia menjadi salah satu pusat pertumbuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan data center di Asia Tenggara seiring permintaan komputasi dan kapasitas data center yang meningkat pesat. Menurut CGS International Sekuritas Indonesia, kapasitas data center di Indonesia diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat menjadi 1,7 gigawatt pada akhir 2026 dari 650 megawatt pada Agustus 2026. Impor produk terkait AI Indonesia mencapai sekitar USD2,5 miliar pada 2025, melonjak 200 persen secara tahunan, menjadi pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, menurut CGSI.

PT Indosat Tbk (ISAT) dinilai menjadi emiten yang paling berpotensi mendapat manfaat dari pertumbuhan ekosistem AI dan data center di Indonesia.

"ISAT dinilai menjadi emiten yang paling berpotensi diuntungkan dari peluang ini," ujar analis CGSI. ISAT memiliki platform yang dapat diskalakan dan berkomitmen mengembangkan bisnis AI NeoCloud serta memiliki kepemilikan minoritas di BDx Indonesia, platform data center besar yang melayani pelanggan hyperscaler dan perusahaan.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga memiliki eksposur terhadap pertumbuhan data center dengan kapasitas sekitar 50 MW pada semester I-2026, dan kapasitas tambahan 39,5 MW dijadwalkan beroperasi pada 2027. TLKM tengah mencari peluang membuka nilai bisnis data centernya melalui kemitraan strategis, menurut CGSI.

Selain ISAT dan TLKM, beberapa emiten lain di Bursa Efek Indonesia juga mendapat manfaat dalam rantai nilai data center, termasuk kontraktor seperti PT Total Bangun Persada Tbk dan PT PP (Persero) Tbk, serta real estate seperti PT Puradelta Lestari Tbk dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. Indonesia kini memiliki 217 fasilitas data center, dengan Jakarta sebagai episentrum dengan 116 unit atau 54 persen dari total nasional, diikuti Batam dengan 21 unit. Riset BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan kapasitas data center nasional mencapai sekitar 580 megawatt pada semester pertama 2026 dan diperkirakan melonjak hingga 3,5 gigawatt pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan majemuk 56,7 persen.

Kombinasi kebutuhan komputasi awan dan infrastruktur GPU untuk AI mendorong lonjakan permintaan ruang data center di Indonesia, menarik investor global untuk mengamankan lahan dan pasokan energi sejak dini.

Potensi ini juga didukung oleh tarif listrik kompetitif, ketersediaan lahan yang relatif melimpah, serta pasar domestik yang besar, menurut analis CGSI. Pengembangan kapasitas AI juga mendapat dorongan dari perusahaan seperti Zankore, kerjasama Indosat, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA, yang merencanakan kapasitas AI hingga 1 gigawatt di Asia Tenggara, dengan tahap pertama di Indonesia mencapai 200 megawatt pada semester I-2027. Pemain lain seperti CoreWeave berencana menambah kapasitas 360 megawatt melalui tiga fasilitas data center di Indonesia yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2028.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed