Harga Minyak Dunia Ditutup Bervariasi Usai Pembicaraan AS-Iran
Dinamika geopolitik Timur Tengah dan lonjakan pasokan domestik Amerika Serikat memicu pergerakan harga minyak mentah dunia yang bervariasi pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Pelaku pasar terus mencermati potensi meredanya perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran yang berkaitan langsung dengan kelancaran jalur distribusi di Selat Hormuz.
Dikutip dari Investor Daily, minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober mencatatkan kenaikan tipis sebesar 9 sen atau 0,11% hingga menyentuh level US$ 79,45 per barel. Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September mengalami penurunan 55 sen atau 0,73% menjadi US$ 75,22 per barel.
Pergerakan harga ini dipengaruhi oleh klaim Presiden AS Donald Trump yang menyatakan pembicaraan positif telah berlangsung sepanjang hari dengan pihak Iran pada Selasa. Walau demikian, Trump menegaskan bakal menempuh langkah tegas jika negosiasi tersebut gagal mencapai kesepakatan.
Pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan keterangan Kementerian Luar Negeri Iran yang membantah adanya dialog damai. Otoritas Iran menegaskan pihaknya bersama Oman baru mencapai kesepahaman teknis mengenai tata kelola Selat Hormuz, sementara pengumuman resmi masih dalam proses penyelesaian.
Jalur Selat Hormuz memegang peranan vital bagi pasar energi global karena mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak bumi serta gas alam cair (LNG) dunia sebelum konflik pecah pada akhir Februari.
Penilaian atas situasi ini turut disampaikan oleh analis senior Price Futures Group Phil Flynn. "Pasar masih optimistis, tetapi tetap berhati-hati karena kesepakatan serupa pada masa lalu tidak bertahan lama," kata Phil Flynn.
Kondisi pasar energi sebelumnya sempat tertekan hingga harga minyak merosot sekitar 5%, yang membuat Brent terlempar ke bawah US$ 80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli pascamunculnya laporan kemajuan pembicaraan damai.
Di samping faktor geopolitik, tekanan terhadap harga WTI datang dari laporan Energy Information Administration (EIA). Data EIA mencatat stok minyak mentah AS justru melonjak 2,5 juta barel menjadi 407 juta barel pada pekan lalu, berlawanan dengan proyeksi analis yang memperkirakan penurunan 1,5 juta barel.
Peningkatan persediaan di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma, yang melebihi estimasi pasar semakin memberati pergerakan WTI. Meski begitu, potensi penurunan harga yang lebih dalam terhambat oleh risiko gangguan distribusi global yang masih tinggi.
Ancaman pasokan tecermin dari klaim kelompok Houthi di Yaman yang menembak kapal tanker minyak milik Arab Saudi di dekat Pelabuhan Yanbu. Sementara itu, rangkaian serangan terhadap armada kapal serta terminal ekspor di wilayah Laut Hitam terus mengganggu rantai pasok komoditas energi.
Hambatan operasi juga menerpa Caspian Pipeline Consortium (CPC) sebagai jalur utama ekspor minyak Kazakhstan yang terpaksa dihentikan beberapa kali pekan ini akibat kendala keamanan dan kelangkaan kapal tanker.
Sementara di kawasan Asia, kebijakan pemerintah China yang kembali melonggarkan kuota ekspor bahan bakar pada Agustus diperkirakan bakal memengaruhi dinamika pasokan minyak regional.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow