Harga minyak turun karena AS tambah sanksi Iran

Smallest Font
Largest Font

Harga minyak turun lebih dari 3% pada perdagangan hari Selasa (25/8) setelah Amerika Serikat memilih menggunakan tekanan ekonomi dan sanksi terhadap Iran alih-alih serangan militer, menurut Detik Finance. Penurunan turut mengindikasikan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan mulai mereda.

Brent turun 3,9% menjadi US$ 88,58 per barel, sementara WTI Amerika Serikat turun 3,1% menjadi US$ 82,36 per barel. Dari level tersebut, harga minyak merosot lebih dari 5% sepanjang pekan ini, dilansir dari Detik Finance.

Penurunan terjadi setelah pemerintah AS mengumumkan serangkaian sanksi baru terhadap Iran serta pihak-pihak yang masih melakukan perdagangan dengan negara tersebut, menurut Detik Finance.

Gedung Putih menyebut langkah itu sebagai "economic D-Day". Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran sebagai serangan finansial terbesar yang pernah ada, dilansir dari Detik Finance.

"Jika kita melakukan tekanan ekonomi maksimum, kemungkinan tidak akan ada dimulainya kembali serangan militer berskala besar," kata Bessent dikutip dari CNBC, Rabu (26/8/2026).

Bessent menilai peningkatan tekanan ekonomi membuat kemungkinan AS kembali melancarkan perang berskala besar terhadap Iran untuk sementara menjadi lebih kecil, menurut Detik Finance.

Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi, Menteri Luar Negeri Iran dan Oman bertemu pada Selasa untuk membahas usulan jalur pelayaran sementara di kawasan Selat Hormuz, menurut Detik Finance.

Presiden AS Donald Trump mengaku mendapat laporan dari angkatan laut AS bahwa seluruh ranjau di Selat Hormuz telah dibersihkan. Trump memperingatkan Iran bahwa kapal yang kembali memasang ranjau akan segera dihancurkan, dilansir dari Detik Finance.

Meski demikian, AS belum menutup kemungkinan serangan militer. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan opsi serangan tetap tersedia jika diperlukan, menurut Detik Finance.

Hegseth menambahkan bahwa tekanan ekonomi saat ini merupakan cara yang paling menyakitkan bagi pemerintah Iran, tetapi AS tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer di Selat Hormuz maupun di sekitar Iran, menurut Detik Finance.

Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintah Iran telah siap menghadapi sanksi tambahan dari AS. "Pemerintah sudah siap dan memiliki rencana dua tahun untuk menghadapi peristiwa ini," ujar Madanizadeh.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed