Harga Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi Tiga Pekan
Lonjakan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak mentah melesat ke posisi tertinggi dalam lebih dari tiga pekan pada perdagangan Selasa (18/8/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Penguatan ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz serta sikap militer Iran yang kian defensif dan ofensif.
Data perdagangan menunjukkan harga minyak Brent kontrak terdekat menguat 15 sen atau 0,17 persen menjadi US$ 91,02 per barel. Pada saat bersamaan, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 44 sen atau 0,52 persen ke level US$ 84,94 per barel, mencatatkan angka penutupan tertinggi sejak 24 Juli 2026.
Pasar finansial mulai mengabaikan sebagian dinamika harian dari konflik tersebut karena ketiadaan hasil konkret sejak Juni. Hal ini membuat pergerakan harga minyak mentah berada dalam kisaran terbatas.
"Pasar sedikit banyak telah meredam respons terhadap berita harian karena banyaknya informasi sejak Juni tanpa hasil nyata," ujar Managing Director Commodities Bannockburn Capital Markets Darrell Fletcher.
Fletcher menambahkan bahwa pengiriman minyak secara terselubung yang melewati Selat Hormuz ternyata melampaui perkiraan awal pasar. Kondisi tersebut membantu meredam kekhawatiran terhadap pasokan global.
"Karena itu, kami melihat tekanan lebih lanjut dalam jangka pendek dan tekanan kenaikan terhadap harga minyak," ujar Ekonom Jefferies Mohit Kumar.
Aktivitas pemuatan minyak di dalam Selat Hormuz kini telah dipulihkan oleh Saudi Aramco melalui skema transfer antarkapal di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab. Di sisi lain, dua perusahaan pelayaran besar asal China mulai mengambil kargo minyak dari luar kawasan Teluk, meski lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut masih sangat minim.
Pemerintah Iran menegaskan penutupan Selat Hormuz akan tetap berlangsung sampai AS mematuhi seluruh poin kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni. Negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyampaikan bahwa Teheran siap mempertahankan posisi tersebut, seiring dengan peralihan sikap militer Iran menjadi sepenuhnya ofensif akibat kebuntuan perundingan damai.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung maupun jadwal perundingan baru dengan pihak Iran. Trump menganggap kesepakatan sementara sebelumnya telah berakhir, sekaligus melayangkan ancaman serangan terhadap Oman yang tengah bernegosiasi dengan Iran terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Eskalasi keamanan juga meluas ke wilayah sekitarnya setelah kelompok Houthi di Yaman meluncurkan rudal ke arah kapal militer Arab Saudi di Laut Merah. Selain itu, laporan United Kingdom Maritime Trade Operations mencatat satu kapal mengalami kerusakan akibat hantaman proyektil di luar Selat Hormuz, sementara Uni Emirat Arab mengklaim mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Iran.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow