Harga Bitcoin Melemah Usai Inflow ETF A S Mencapai US$ 853 Juta

Smallest Font
Largest Font

Harga Bitcoin (BTC) mencatatkan penurunan tipis pada perdagangan Senin pagi, 10 Agustus 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah mulainya pemulihan minat investor institusional melalui derasnya arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot Amerika Serikat.

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.45 WIB yang dikutip dari Investor Daily, harga Bitcoin melorot 0,11% menjadi US$ 64.848 per koin. Nilai tersebut setara dengan Rp 1,15 miliar mengacu asumsi kurs Rp 17.827 per dolar AS.

Meskipun nilai Bitcoin terkoreksi, total kapitalisasi pasar kripto global justru menguat 0,04% dalam 24 jam terakhir hingga menyentuh US$ 2,21 triliun. Pergerakan sejumlah aset kripto utama lain terpantau bervariasi.

Ethereum (ETH) mencatatkan penurunan 0,41% ke posisi US$ 1.908. Sebaliknya, Binance Coin (BNB) berhasil menguat 0,28% menuju US$ 603, sementara Indeks CoinDesk 20 terkikis 0,17%.

Laporan dari CoinDesk mengindikasikan pemulihan minat institusi terhadap Bitcoin. Masuknya dana ke ETF Bitcoin spot AS mencapai US$ 853,54 juta dalam kurun sepekan hingga 7 Agustus 2026, yang menjadi rekor inflow mingguan tertinggi sejak pertengahan April.

Porsi masuk terbesar disumbangkan oleh ETF IBIT milik BlackRock. Mengutip data SoSoValue, produk tersebut mengantongi inflow sekitar US$ 693 juta.

Lonjakan dana ini memberikan sinyal awal kembalinya investor institusional ke pasar aset kripto. Kondisi ini muncul usai terjadinya tekanan jual signifikan pada paruh pertama tahun ini.

Daya tahan harga Bitcoin relatif terjaga walau pasar dibayangi sentimen negatif, seperti aksi peretasan Coldcard bernilai jutaan dolar serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. BTC mampu bertahan di kisaran US$ 64.000 pada awal pekan setelah sempat menyentuh level US$ 65.100.

Kebutuhan Inflow Konsisten untuk Tren Penguatan

Proses pemulihan harga Bitcoin dinilai belum terkonfirmasi secara penuh meski tren inflow ETF melonjak tajam. Secara year to date (YTD), ETF Bitcoin tercatat masih mengalami net outflow sekitar US$ 4,5 miliar.

Arus keluar tersebut dipicu oleh gelombang tekanan jual sepanjang semester pertama 2026. Pada periode itu, harga Bitcoin anjlok sekitar 33% hingga terlempar ke bawah level US$ 60.000 pada akhir Juni.

Kondisi ini membuat Bitcoin tetap memerlukan suntikan dana ETF yang stabil untuk membangun pijakan reli yang lebih solid. Rekam jejak historis menunjukkan bahwa reli Bitcoin pada rentang April–Oktober 2025 melambungkan harganya dari US$ 75.000 hingga rekor US$ 126.000, di mana inflow mingguan ETF beberapa kali menembus US$ 1 miliar.

Data CPI AS Jadi Fokus Pasar Selanjutnya

Perhatian para pelaku pasar kini tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) AS periode Juli yang dijadwalkan terbit pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Laporan sektor tenaga kerja AS untuk periode Juli yang tumbuh di bawah ekspektasi telah menahan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Situasi ini berpotensi memberi angin segar bagi aset berisiko seperti Bitcoin, sekaligus memberi ruang ekspansi bagi investor institusi lewat ETF.

Tingkat inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kelonggaran kebijakan moneter yang menjadi katalis positif bagi Bitcoin. Sebaliknya, inflasi yang terakselerasi berisiko menekan kembali aset kripto melalui lonjakan imbal hasil obligasi dan penyesuaian ekspektasi suku bunga.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed