Koreksi Harga Bitcoin Capai 45 Persen Ditengah Ketidakpastian Pasar

Smallest Font
Largest Font

Tekanan jual menahan harga Bitcoin di kisaran US$63.334 pada pertengahan Agustus 2026, yang mencerminkan penurunan tahunan hingga 45,98 persen setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di atas US$120.000 pada tahun lalu.

Kondisi penurunan yang cukup tajam ini dinilai bukan bentuk tren penurunan struktural, melainkan fase normalisasi pasar kripto setelah periode kenaikan harga yang sangat tinggi.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, memberikan pandangannya mengenai pergerakan aset digital tersebut dalam keterangannya pada Minggu (16/8).

"Koreksi harga Bitcoin yang cukup dalam secara tahunan ini sebenarnya perlu dilihat dalam kontek yang lebih luas. Secara teknikal, ini bukan semata-mata BTC sedang dalam tren penurunan struktural, melainkan proses normalisasi setelah euforia harga yang sangat tinggi tahun lalu," kata Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.

Area US$62.000 hingga US$65.000 saat ini menjadi zona penopang utama untuk menguji ketahanan minat beli investor global dalam menahan tekanan jual.

"Jadi perhatian saya bukan besaran koreksinya semata, tapi apakah BTC masih mampu bertahan di atas level-level support psikologis penting," jelas Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.

Proyeksi harga Bitcoin pada paruh kedua tahun 2026 masih bergerak sangat lebar, mulai dari skenario konservatif di rentang US$45.000–US$90.000, skenario optimistis pada US$95.000–US$120.000, hingga potensi penguatan maksimum mencapai US$150.000.

"Saya pribadi tidak ingin memberi angka tunggal sebagai ‘prediksi’, karena itu bisa menyesatkan, apalagi mengingat karakter Bitcoin yang historisnya sangat volatil dan sering bergerak di luar ekspektasi mayoritas analis," ucap Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.

Pergerakan aset ini dipengaruhi oleh empat faktor mendasar, yakni arah suku bunga The Fed, arus dana ETF Bitcoin spot, dinamika makroekonomi dan geopolitik, serta indikator teknikal siklus pasar.

Aktivitas pelaku pasar internasional tetap menjadi penggerak utama, mengingat pembentukan harga tetap berlangsung di pasar global sementara pasar domestik Indonesia bertindak sebagai penyesuai.

"Dalam jangka pendek, investor perlu memperhatikan kombinasi kebijakan BI dan arah komunikasi The Fed. Dua katalis moneter besar yang muncul hampir bersamaan dapat meningkatkan volatilitas pasar, terutama jika hasilnya berbeda dari ekspektasi," tambah Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.

Perhatian pelaku pasar pekan ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18–19 Agustus serta rilis notulen FOMC pada 19 Agustus.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed